Berita

PRESIDEN TIGA PERIODE

Kubu Golkar Tak Ingin Indonesia Kembali ke Zaman Orde Baru

SENIN, 23 AGUSTUS 2010 | 08:53 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Amandemen UUD 1945 tentang penambahan masa jabatan presiden jadi tiga periode yang memungkinkan SBY untuk maju lagi sebagai calon presiden pada 2014 mendatang bukan merupakan masalah yang urgen bangsa Indonesia.

Pasalnya, ada masalah konstitusi lainnya yang lebih urgen yang harus diperhatikan oleh segenap komponen masyarakat.

"Yakni masalah pemetaan daerah dan soal pembatasan kewenangan pemerintah pusat. Saat ini 'tangan' pemerintah pusat sampai ke desa bahkan sampai ke sekretaris desa. Akibatnya, kalau di pusatnya tidak jalan maka struktur ke bawahnya juga demikian. Jangan sampai pusat rusak struktur kita di bawah jadi hancur. Biarkan masyarakat mengatur nya sendiri," ujar Fungsionaris DPP Partai Golkar Indra J Pilliang Minggu malam di usai diskusi di Senayan, Jakarta.


Dia melihat, usul amandemen tentang masa jabatan presiden itu hanyalah bentuk ketakutan kader Partai Demokrat yang tidak lagi memiliki tokoh pasca SBY. Dan, bila itu terjadi, Indonesia sama saja akan kembai ke zaman Orde Baru, bahkan lebih otoriter.

"Itu bukan masalah urgen bagi bangsa ini. Masalah bangsa ini bukan SBY. Kalau sampai di amandemen berarti ini lebih otoriter dari pada zaman Orde Baru. Kenapa harus ditakut-takuti, kesannya setelah SBY tidak ada tokoh lagi. Kita masih punya banyak tokoh kok," ucapnya. [zul]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya