Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyoroti kondisi tersebut saat membahas pengelolaan sumber daya alam di sektor pertambangan.
“Sekarang terjadi over supply hampir 800.000 ton. Bagaimana mungkin bisa harganya bagus,” ujar Bahlil dalam Minerba Convex 2026 di Jakarta, Senin, 2 November 2026.
Menurutnya, pelaku industri dan pengusaha tambang perlu menahan diri agar produksi tidak berlebihan ketika harga komoditas sedang tertekan. Peningkatan produksi tanpa mempertimbangkan kebutuhan pasar justru berisiko memperburuk kondisi harga.
“Saya minta teman-teman antara industri dan pengusaha tambangnya ini kita harus bisa menahan diri,” tegasnya.
Bahlil menilai pengendalian pasokan perlu menjadi bagian dari strategi pengelolaan sumber daya alam nasional. Eksploitasi tidak semestinya dilakukan secara berlebihan hanya demi mengejar volume produksi.
“Kalau memang hari ini barangnya belum mahal, barangnya belum bagus, tinggalkan. Nanti ada Menteri ESDM baru, ada Dirjen baru, ada Presiden baru, ada pengusaha baru untuk anak cucu kita, untuk mereka mendapatkan harga yang maksimal,” pungkas Bahlil.
Ia menekankan bahwa pengelolaan sumber daya alam harus mempertimbangkan kepentingan jangka panjang agar komoditas tambang Indonesia dapat memberikan manfaat optimal bagi negara dan generasi mendatang.
BERITA TERKAIT: