Kekhawatiran terhadap prospek industri teknologi, kenaikan harga minyak, serta perlambatan ekonomi zona euro turut menekan sentimen investor.
Euro Stoxx 50 merosot lebih dari 1 persen, sedangkan indeks Stoxx 600 terkoreksi sekitar 0,5 persen pada penutupan perdagangan Jumat 30 Oktober 2026 waktu setempat.
Pelemahan paling dalam terjadi di Jerman, Italia, dan Spanyol yang masing-masing kehilangan sekitar 1 persen. CAC 40 Prancis cenderung stabil, sementara FTSE 100 Inggris nyaris tidak berubah.
Sektor teknologi menjadi pemberat utama setelah gelombang laporan keuangan yang mengecewakan memperpanjang aksi jual saham berbasis teknologi. ASML anjlok sekitar 6 persen, sementara Infineon Technologies dan STMicroelectronics masing-masing terkoreksi lebih dari 6 persen dan 5 persen.
Tekanan juga menjalar ke saham perbankan. Di Inggris, NatWest terjun 9 persen setelah kinerja keuangannya tidak cukup kuat untuk mendorong peningkatan proyeksi bisnis. Lloyds Banking Group dan Barclays turut melemah masing-masing 5 persen dan 3,8 persen.
Sebaliknya, saham farmasi menjadi salah satu penopang pasar. AstraZeneca melonjak lebih dari 7 persen setelah membukukan kinerja kuartal III yang melampaui ekspektasi. Sanofi juga menguat 4,7 persen setelah mencatatkan laba dan pendapatan di atas perkiraan pasar.
Dari sisi ekonomi, data awal menunjukkan pertumbuhan zona euro melambat pada kuartal III. Prancis bahkan mencatat kontraksi produk domestik bruto (PDB) sebesar 0,1 persen secara kuartalan, berbanding terbalik dengan perkiraan pertumbuhan 0,1 persen. Inflasi tahunan negara tersebut juga meningkat menjadi 3,4 persen pada Oktober, melampaui perkiraan 3,2 persen.
Di Jerman, inflasi Oktober justru melandai lebih besar dari perkiraan, sementara perekonomian masih tumbuh dengan laju moderat. Namun, perkembangan tersebut belum cukup meredakan tekanan di pasar saham, terutama setelah meningkatnya kekhawatiran mengenai potensi serangan militer baru Amerika Serikat terhadap Iran dan dampaknya terhadap harga energi.
Di Frankfurt, DAX terkoreksi sekitar 0,9 persen ke posisi 25.819, sekaligus mengakhiri tren penguatan selama empat hari berturut-turut. Saham Infineon, Siemens Energy, dan Hochtief menjadi pemberat utama dengan penurunan berkisar 3 persen hingga 7,1 persen. Deutsche Bank juga turun 3,6 persen dan Siemens melemah 2,9 persen.
Sebaliknya, saham Bayer melonjak lebih dari 5 persen setelah perusahaan tersebut memenangkan putusan juri dalam perkara gugatan terkait herbisida Roundup.
Di Paris, CAC 40 bertahan di level 7.969. Kenaikan saham L’Oréal sebesar 2,9 persen, Hermès 2,2 persen, dan Sanofi 4,7 persen membantu mengimbangi tekanan dari saham teknologi. STMicroelectronics turun 5,3 persen dan Schneider Electric melemah 4,1 persen.
Sementara itu, FTSE 100 Inggris menjadi indeks dengan kinerja harian relatif paling baik karena mampu bertahan di sekitar level penutupan sebelumnya. Selain AstraZeneca, saham BP menguat lebih dari 0,5 persen setelah melaporkan laba sebesar 8,46 miliar Dolar AS, jauh melampaui ekspektasi pasar berkat kuatnya margin pengilangan minyak. Shell juga ditutup sedikit lebih tinggi.
Namun, penguatan tersebut tertahan pelemahan saham pertambangan menyusul penurunan harga logam. Endeavour dan Fresnillo masing-masing terkoreksi lebih dari 5 persen, Antofagasta turun 4,6 persen, sedangkan Anglo American melemah 3,5 persen.
Meski ditutup melemah pada akhir pekan, kinerja mingguan bursa Eropa masih positif. Euro Stoxx 50 menguat sekitar 1 persen dan Stoxx 600 naik 2,1 persen sepanjang pekan. DAX dan CAC 40 masing-masing mencatat kenaikan sekitar 2,5 persen, sedangkan FTSE 100 menguat 0,4 persen.
Secara bulanan, pergerakan indeks menunjukkan hasil beragam. Stoxx 600 naik 1,9 persen dan FTSE 100 melonjak 12 persen sepanjang Oktober. CAC 40 hanya bertambah 0,1 persen, sementara Euro Stoxx 50 justru terkoreksi 2,2 persen.
BERITA TERKAIT: