Washington disebut keliru menganggap pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, akan memicu keruntuhan pemerintahan Republik Islam Iran.
Wakil Panglima IRGC Bidang Politik, Brigadir Jenderal Yadollah Javani, mengatakan AS dan Israel juga salah memperhitungkan dampak serangan terhadap struktur politik dan keamanan Iran, termasuk upaya memicu kekacauan di jalanan.
“Musuh membayangkan bahwa dengan gugurnya Pemimpin Revolusi, penyerangan terhadap struktur politik dan keamanan, serta penciptaan kekacauan di jalanan, mereka dapat menghancurkan sistem, tetapi perhitungan ini tidak sesuai dengan realitas masyarakat Iran," kata Javani, dikutip dari media Iran, Rabu, 14 Oktober 2026.
Javani turut menyoroti perhitungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dinilainya menganggap Iran berada dalam posisi lemah.
Dikatakan bahwa serangan terhadap pusat-pusat politik dan keamanan Iran diharapkan dapat membuka jalan bagi runtuhnya sistem pemerintahan, tetapi kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan perkiraan tersebut.
Ia menambahkan, Washington telah berupaya menempatkan Iran di bawah tekanan maksimum sejak sebelum Donald Trump menjabat sebagai presiden hingga saat ini.
Namun, upaya itu disebut tidak berhasil menghadapi keteguhan rakyat Iran dan respons tegas pemerintahannya.
Javani menegaskan, budaya pengorbanan dan kesyahidan merupakan bagian mendasar dari identitas bangsa Iran.
“Bangsa Iran dibentuk atas ajaran mati syahid, dan karena alasan ini, ancaman dan tekanan dari musuh tidak dapat dengan mudah menggoyahkan tekadnya,” tegasnya.
Perang AS-Israel terhadap Iran sendiri dimulai pada 28 Februari 2026, menewaskan Khamenei, sejumlah komandan militer senior, dan warga sipil.
Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan mulai berlaku pada April, disusul nota kesepahaman 14 poin pada Juni. Namun, Teheran menuding Washington berulang kali melanggar kesepakatan tersebut, termasuk terkait pelayaran di Selat Hormuz.
BERITA TERKAIT: