Jurnalisme Rapuh dan Kopong

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/jimmy-h-siahaan-5'>JIMMY H SIAHAAN</a>
OLEH: JIMMY H SIAHAAN
  • Senin, 09 Februari 2026, 16:53 WIB
Jurnalisme Rapuh dan Kopong
Cover buku berjudul “Perempuan, Politik dan Jurnalisme: Tujuhpuluh Tahun Toety Azis". (Foto: Tokopedia)
DALAM sebuah buku berjudul “Perempuan, Politik dan Jurnalisme: Tujuhpuluh Tahun Toety Azis", terbit 1994. Buku itu hadiah ulang tahun dari Syahrir – Yayasan Padi dan Kapas, Jakarta serta Ashadi Siregar dan kawan-kawan dari LP3Y, Yogya.

Dalam sebuah pengantar berjudul, Jurnalisme Rapuh, Jurnalisme Pemberi hidup, Daniel Dhakidae menuliskan, "Ibu tidak pernah dari sesuatu yang lain dari pada surat kabar", surat kabar itu bernama, Surabaya Post.

Saat itu hanya ada tiga nama, Ani Idrus dari WASPADA, Medan, Herawati Diah dari MERDEKA, Jakarta dan Toety Azis.

Jurnalisme Rapuh

Dunia Pers saat ini mengalami masa Kopong artinya kosong, hampa, atau tidak ada isinya. Istilah ini umumnya merujuk pada buah-buahan yang tidak berisi daging buah atau benda berongga. 

Dalam istilah masyarakat, "lutut kopong" sering digunakan untuk menggambarkan kondisi sendi lutut yang berbunyi saat digerakkan (krepitus), bukan berarti lututnya benar-benar kosong. 

Gerakan pers sangat terbatas dalam berita dan akibat gesekan kekuasaan politik yang selalu membuat kesakitan parah. Bahwa pers mati syahid tidak ada yang membantah. Apakah mereka mati dalam keanggunan (goddelijk). Keanggunan itu hilang rupa dalam cengkraman kekerasan.

Jurnalisme sebagai Pemberi Hidup 

Bagi jurnalisme di sini, hidup memerlukan keberanian dan untuk tidak mati memerlukan siasat. Namun, apapun alasannya, disana perlu adanya visi, etos, dan courage, tentu saja,berarti keberanian, Tillich-que, menurut Paul Tillich sebagai the courage to be. 

Saatnya visi dan ethos kinerja jurnalistik, bekerja bukan atas ketakutan, meskipun seribu ketakutan menghimpit.

Karena adanya Noise, Hoax, Serangan Siber saat ini. Sejumlah negara sudah ambil langkah tegas pada platform digital

Kebijakan di ranah digital dan AI harusnya menyehatkan dunia jurnalistik.Dunia juga sedang menyaksikan gelombang penolakan AI.

Pers Indonesia dengan tantangan yang tidak mudah, saat ini masyarakat tidak hanya butuh informasi yang cepat, namun tepat,

Sejumlah negara sudah ambil langkah tegas pada platform digital. Diharapkan "Disrupsi Digital" justru momentum Media untuk berbenah disamping itu disinformasi, malinformasi kini menjadi pekerjaan rumah global, bukan hanya Indonesia. 

Sejumlah negara bahkan mengambil langkah tegas terhadap platform AI serta kebijakan di ranah digital dan AI harus menyehatkan dunia jurnalistik.

Jurnalistik bisa kembali dinikmati seperti dahulu: indah, tepat, bermanfaat, dan mendidik, tanpa banyak noise. Ibu Toety ada sebuah pengecualian. Sikap dan otonomi dan independensinya bersifat personal. 

Karenanya bagaimana berjaga dari pengaruh luar yang mengincar, tetap menjadi tanda tanya untuk masa yang akan datang, sebuah pesan dari tiga dekade yang lalu dari Ashadi Siregar.

Kebebasan Pers

The Economist, 7 Februari 2025, menganalisis data dari sekitar 180 negara selama 80 tahun terakhir yang dikumpulkan oleh V-Dem, sebuah proyek penelitian Swedia. Kami menemukan lingkaran umpan balik antara pembungkaman media dan munculnya korupsi (lihat Briefing). 

Tampaknya seperti ini: Politisi yang ingin merampok publik memiliki insentif untuk membungkam pers. Semakin ketat mereka membungkamnya, semakin mudah untuk mencuri. Dan semakin banyak rahasia keji yang dikumpulkan politisi, semakin besar insentif mereka untuk membungkam pelaporan kritis di masa depan. 

Perhitungan kami menunjukkan bahwa jika kebebasan pers merosot dari "sebaik Kanada" menjadi "seburuk Indonesia", itu adalah indikator yang baik bahwa korupsi akan meningkat dari "sebersih Irlandia" menjadi "seburuk Latvia". Prosesnya bertahap, menyebar selama beberapa tahun, sehingga pemilih mungkin tidak menyadarinya sampai setelah pemilihan berikutnya. 

Keadaannya lebih buruk di bawah pemerintahan populis, yang biasanya menjelek-jelekkan para kritikus mereka dan berupaya menghancurkan lembaga-lembaga yang membatasi kebebasan pers.

Sesungguhnya “cybernetics” yang berarti “navigator atau seni mengemudi”. Kini dunia Pers Indonesia yang kopong dan rapuh memerlukan "pengemudi pejuang atau navigator" untuk membangun kembali dan mengembalikan Pers sebagai kekuatan keempat Demokrasi. rmol news logo article

*Penulis adalah Eksponen Gema 77/78


Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA