“Kami sedih sekali karena keluarga kami yang menjadi anggota Polri mengalami musibah seperti ini kala bertugas. Kami berharap tidak ada demo-demo anarkis seperti ini lagi,†kata Siti Romlah, salah seorang anggota keluarga polisi yang menjadi korban bentrokan mahasiswa-polisi saat ditemui di RS Polri Kramatjati, Minggu (29/9).
Kakak kandung Baratu Rafifuljana yang mengalami luka patah tulang akibat lemparan batu ini menjelaskan, adiknya terluka saat mengawal demonstrasi mahasiswa di Gedung DPR. Adiknya mengalami patah tulang di bagian hidung karena helm yang digunakan pecah akibat lemparan batu.
“Saya berharap, para mahasiswa jangan menjadikan polisi sebagai musuh, tapi seharusnya merekaberterima kasih dengan kehadiran polisi dalam mengatur ketertiban umum,†ujar Siti.
Hal senada juga disampaikan Maria Pardede, ibu kandung Bripda Slamet R Sihombing yang menderita patah tulang bahu akibat lemparan batu.
“Harapan saya kalau demo damai-damai saja. Peristiwa kemarin sungguh mengerikan, polisi seperti anak saya hanya menjaga ketertiban saja dan bukan musuh para mahasiswa,†katanya.
Maria menuturkan saat anaknya mengalami musibah itu, anaknya sama sekali tak memberi tahu dia dan keluarganya. “Dia cuma menanyakan kondisi satu persatu keluarga kami, padahal saat itu dia sendiri sudah mengalami luka parah,†katanya.
Menurut Kasubdit Kedokteran Forensik RS Polri, dr Lastri, selama sepekan kemarin sebanyak 39 orang anggota Polri di luar mahasiswa menjadi korban bentrokan. Rata-rata mereka mengalami luka di bagian kepala akibat lemparan batu dan pukulan benda tumpul.
“Dari 29 orang anggota Polri, 15 terpaksa dirawat dan 7 orang dirawat hingga hari ini karena baru saja menjalani operasi. Sementara sisanya bisa langsung pulang karena mengalami luka ringan,†pungkasnya.
BERITA TERKAIT: