Di Hadapan Menaker Santri Curhat Ketenagakerjaan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/dede-zaki-mubarok-1'>DEDE ZAKI MUBAROK</a>
LAPORAN: DEDE ZAKI MUBAROK
  • Selasa, 21 November 2017, 16:21 WIB
Di Hadapan Menaker Santri Curhat Ketenagakerjaan
Foto: Dok/Kemnaker
rmol news logo Ketua DPRD Jawa Timur Abdul Halim Iskandar membawa 120 santri se-Jawa Timur mengunjungi kantor Kementerian Ketenagakerjaan. Kedatangan santri dalam rangka berdialog sekaligus meminta nasihat dari Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri.

“Kedatangan santri ke kantor Kemnaker ingin mendapatkan tambahan  pengetahuan dan wawasan tentang ketenagakerjaan. Sektor ketanagakerjaan ini sangat strategis buat masa depan generasi penerus terlebih menterinya pun juga berasal dari santri," kata Abdul Halim Iskandar di Kantor Kemnaker, Senin (20/11).
 
Dalam obrolan hangat itu, Menaker Hanif mengingatkan santri tak boleh minder, bersikap manja dalam menghadapi dahsyatnya persaingan realita hidup. Ketika di tempa  di Pondok Pesantren, kata Menaker, santri membiasakan hidup keras pada diri sendiri dan mandiri.

“Santri harus memiliki karakter kuat dan pribadi di atas standar agar bisa memenangi persaingan pasar kerja. Sebab kalau di atas standar pasti jadi pemenang dan kalau standar-standar saja, santri akan sulit  menghadapi persaingan,” katanya.

Menaker Hanif yang pernah merasakan Pondok Pesantren Al-Muayat Solo, Jawa Tengah, berpesan menjadi santri dan tinggal di kampung dengan kehidupan serba terbatas, tidak perlu berkecil hati. Meski berada di lingkungan pondok pesantren, santri-santri bisa berkembang untuk mewujudkan cita-cita dan mimpinya.

“Untuk mencapai kompetensi di atas standar tersebut, maka para santri diingatkan harus belajar di atas standar. Kalau di bawah standar, pasti akan kalah. Karena itu santri  harus tampil di atas standar. Kalau ingin menjadi Kyai besar, harus menjadi Kyai yang di atas standar," kata Menaker.

Menaker menggambarkan, banyak contoh di Indonesia, termasuk  Halim (Iskandar-red). Bapak Jokowi juga sama, walaupun biasa-biasa saja tetapi karena kerja keras akhirnya bisa menjadi presiden.

"Jadi ini pelajaran untuk kita semua dalam situasi serba terbatas, jangan sampai membuat kita patah semangat," katanya.

Menaker menegaskan, santri harus yakin bisa berkontribusi kepada negara. Sejarah mencatat Republik ini tidak bisa berdiri tegak tanpa kehadiran santri dan pesantren karena republik ini sebagian besarnya merupakan investasi dari para santri.
 
“Jika diibaratkan republik ini adalah perusahaan maka saham terbesar yang memegang adalah para santri, pesantren, kiai, dan para ulama, “ ujar Menaker.

Turut  mendampingi Menaker Hanif Sekjen Hery Sudarmanto, Dirjen Binalattas Bambang Satrio Lelono, Dirjen Binapenta Maruli Apul Hasoloan, dan Direktur Produktivitas Zuhri Bahri. [wid]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA