Namanya Tuty Alawiyah. Di samping kegemarannya menulis puisi dan menyanyi lagu-lagu keagamaan (Kasidah), Tuty juga dikenal sebagai Qariah cilik dan sering tampil menyampaikan ceramah keagamaan di depan publik. Tentu ini dorongan kuat sang ayah dan ibunya, HJ. Rogayah.
Salah satu momen yang sangat historis dan kemudian berpengaruh besar dalam perjalanan kehidupan Tuty ialah membaca al-Qur'an di sebuah acara keagamaan sebelum ceramah sang ayah di istana kepresidenan era presiden Soekarno pertengahan kedua tahun 1950an. Pengalaman ini mengisyaratkan pentingnya menghadirkan agama/Islam sebagai ajaran yang menembus batas kekuasaan. Agama adalah milik rakyat dan penguasa sekaligus dan karena itu harus ada dialog, kompromi, kesepakatan dan rumusan yang tepat soal agama, negara dan rakyat ini. Jika tidak, maka besar kemungkinan negara bersikap antipati terhadap agama atau sebaliknya agama dijadikan alat untuk memperkokoh kekuasaan yang bahkan korup sekalipun.
Di samping itu, rakyat juga bisa memperlakukan agama antara lain untuk melakukan perlawanan terhadap negara karena dinilai mengabaikan kehendak tuhan. Atau, atas nama
kesucian agama, rakyat justru juga melakukan kesewenang- wenangan. Semua ini, muncul dalam sejarah.
Tuty lahir dan tumbuh sebagai gadis cilik (1950-1960) saat Indonesia secara politik dan ideologis sedang mengalami goncangan. Ada Pemilu 1955 yang memunculkan tiga kekuatan arus ideologi politik utama Nasionalis, Agama dan Komunis. Ini yang kemudian mendorong Soekarno menawarkan tiga kaki atau tiang penyangga negara dan bangsa yaitu Nasakom yang ternyata mengalami kegagalan. Ada juga sidang atau perdebatan penting dan sangat historis setelah BPUPKI yaitu Konstituante. Khusus bagi kalangan umat Islam, tahun-tahun itu merupakan tahun yang berat apalagi memasuki 5 tahun pertama tahun 1960 karena ada G 30 S PKI.
Di situasi politik seperti ini, di bawah mentor sang ayah Tuty kecil terdidik untuk selalu melakukan perjumpaan dengan masyarakat muslim tradisional melalui wadah kultural keagamaan "Pengajian" atau "Majelis Ta'lim". Sang ayah, KH.Abdullah Syafii dan juga kemudian Tuty Alawiyah menampilkan Islam yang sangat kultural dan karena itu lekat dengan masyarakat akar rumput dan negara sekaligus. Islam yang ditampilkan dan dijelaskan ialah Islam yang ramah kepada masyarakat/rakyat dan negara.
Tuty Alawiyah sejak kecil telah terlatih tidak saja untuk berdakwah, akan tetapi juga sekaligus menjadi jembatan penting yang memperjumpakan muslim tradisional khususnya di level akar rumput dengan pusat-pusat kekuasaan sekular dari semenjak era Soekarno hingga Jokowi sekalipun. Bahkan Tuty telah sangat berhasil mentransformasikan kaum perempuan muslimah yang terkonsentrasi dalam gilda-gilda pengajian tradisional tersebut menjadi gerakan perempuan muslimah yang jauh lebih terorganisasi secara modern, visioner dan "memberdayakan" secara sosial, kultutal, ekonomi dan bahkan politik. Hal ini dengan sangat jelas terlihat saat Tuty tahun 1981 membentuk Badan Kontak Majelis Ta'lim (BKMT) yang menaungi seluruh Majelis Ta'lim se-Indonesia.
Pembentukan dan pengambangan BKMT yang diawali di Jakarta ini mendapat dukungan penting dari penguasa sejak era Soeharto hingga Jokowi. Bahkan, the ruling party Golkar pada era Soeharto mendapatkan suntikan/dukungan penting dalam Pemilu. Jadi, kantong Islam penting yaitu jaringan Majelis Ta'lim yang di bawah kepemimpinan Tuty Alawiyah ini telah ikut berjasa (selain ICMI di mana Tuty juga menjadi salah seorang tokoh pentingnya) dalam apa yang disebut sebagai "penghijauan" politik baik di parlemen maupun birokrasi. Ini yang, pada masa itu, sering disebut sebagai "ijo royo-royo" (Islamisasi politik). Presiden Soeharto yang semula cenderung memusuhi aspirasi Islam, saat itu mulai merubah haluan politiknya menjadi semakin soft dan memberikan ruang bagi aspirasi Islam. Peta dan arah politik mengalami perubahan.
Tuty Alawiyah, melalui BKMT, telah berjasa mewarnai dan memberikan arah kultural keagamaan masyarakat akar rumput dan politik sekaligus. Tak berlebihan untuk berpandangan bahwa Tuty Alawiyah termasuk salah seorang tokoh perempuan
Muslimah trendsetter Indonesia yang sangat penting.
Kehadirannya di tengah-tangah pengajian, Zikir semacam Zawiyah dalam tradisi Sufi, pondok pesantren Yatim Piatu, lembaga-lembaga pendidikan tentu memperkokoh akar sosial keagamaannya. Kiprahnya di ICMI, CIdes, MUI, Golkar, MPR RI, di birokrasi sebagai Menteri di dua kabinet memberikan gambaran reputasi politik Tuty Alawiyah yang tak bisa dipungkiri.
Kemudian dakwah-dakwahnya di berbagai negara, keikutsertaan secara aktif di organisasi wanita internasional juga memberikan gambaran tentang peran-peran global almarhumah yang sangat penting. Semua ini telah menempatkan Tuty Alawiyah tidak saja sebagai seorang Daiyah/Mubalighot, Edukator dan Akademisi/cendikiawan, tapi juga sebagai aktivis pemberdayaan perempuan dan pemberi arah politik.
Semoga semua ini menjadi amal jariyah almarhumah, selamat jalan Bu Tuty menuju tempat yang telah disediakan di sisi Allah...
Sudarnoto Abdul Hakim
Ketua Dewan Pakar Fokal IMM/ Wakil Ketua Majelis Dikti PP Muhammadiyah