Gerakan Perempuan Harus Bisa Menjaga Keutuhan NKRI

Kamis, 21 April 2016, 16:53 WIB
Gerakan Perempuan Harus Bisa Menjaga Keutuhan NKRI
rmol news logo Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Anggia Ermarini mengingatkan kader untuk tak hanya berjuang bagi keluarganya, tetapi juga berkiprah lebih bagi bangsa dan negara.

Ungkapan "perempuan adalah tiang negara" memiliki makna bahwa perempuan memiliki peran yang penting dalam menjaga dan mempertahankan keutuhan bangsa dan negara.  

"Bagaimana caranya? Perempuan sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga menjadi harapan dalam menciptakan generasi yang diharapkan bagi bangsa, negara dan agama," ujar Anggia dalam sambutannya saat peringatan hari lahir ke-66 Fatayat NU‎ di Perpustakaan Nasional, Salemba, Jakarta Pusat (21/4).

Dikatakan Anggia, Fatayat NU yang telah berumur 66 tahun diharapkan  semakin matang dalam berorganisasi. Diingatkannya, 24 April 1950 M, bertepatan dengan 6 Rajab 1369 H, Fatayat NU lahir sebagai organisasi gerakan perempuan yang berakar pada tradisi ke-Islaman dan ke-Indonesian dengan nilai-nilai ahlussunnah wal jama’ah.

Pada peringatan Harlah Fatayat NU, seluruh kader diharapkannya mengingat kembali perjuangan tiga perempuan NU yang telah berjuang dengan gigih. "Tiga Serangkai" ini adalah Nyai Chuzaimah Mansur dari Gresik, Nyai Murthosiyah Chamid dari Surabaya dan Nyai Aminah Mansur dari Sidoarjo.

Karena perjuangan para ulama NU dan pendiri itulah Fatayat menjadi organisasi perempuan yang besar, mempunyai jaringan yang kuat, struktur yang jelas dan memiliki segudang sumber daya manusia yang hebat.

"Kita harus meneruskan perjuangan mereka. Tantangan dan respon yang kita berikan pasti akan berbeda dengan masa awal pendirian Fatayat NU. Hari ini tantangan Fatayat semakin kompleks dan semakin beragam, seiring dengan perubahan zaman," sebutnya.

Salah satunya adalah keberagaman budaya yang ada di Indonesia semestinya jadi sebuah kekuatan untuk mempertahankan bangsa dan negara. Bukan sebagai sumber konflik.

Fatayat berpendapat, keyakinan beragama yang lebur dengan  nilai budaya Indonesia adalah potensi kekuatan bangsa dalam mempertahankan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tentunya, lanjut Anggia, selain meningkatkan kapasitas lembaga dan penguatan kemandirian ekonomi kader dan program internal lainnya, Fatayat juga memiliki sejumlah agenda eksternal. Seperti penguatan kebijakan negara yang melindungi perempuan dan anak dan penguatan budaya Islam Nusantara.

Ini dilakukan untuk menghadapi Masyarakat ekonomi Asean dan segala bentuk komunikasi dan transaksi global. Karenanya, Fatayat terus meningkatkan kualitas segala potensi dan mencari inovasi yang mutakhir dalam pemberdayaan kadernya.‎ Di antaranya Pendidikan Parenting dan pelatihan berbagai UMKM kepada para kader.

Selain itu, pengembangan konsep Islam Nusantara sebagai spirit keber-agamaan dilakukan melalui kegiatan Forum Daiyah Fatayat (FORDAF), dalam bentuk pengajian secara rutin atau majelis taklim.

"Islam Nusantara inilah yang dapat menjadi solusi meneguhkan NKRI. Islam yang santun dan rahmatan lil alamin yang menghormati dan berdamai dengan perbedaan-perbedaan dan keberagaman," tandasnya.

Selain itu, ‎ditambahkan Anggia, Fatayat NU lahir pada bulan yang bersejarah yaitu bertepatan dengan bulan lahirnya Raden Ajeng Kartini, salah satu tokoh perempuan yang juga pahlawan nasional.

"Spirit Kartini inilah yang juga harus tersampaikan kepada seluruh kader Fatayat dan perempuan Indonesia," tambahnya.

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA