Catat! Stok Beras di Pasar Cipinang Aman dan Melimpah

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Senin, 15 Februari 2016, 22:24 WIB
Catat<i>!</i> Stok Beras di Pasar Cipinang Aman dan Melimpah
ilustrasi/net
rmol news logo Musim paceklik di Februari 2016 ini ternyata tak membuat stok dan pasokan beras di pasar berkurang. Justru, stok beras bulan ini jauh lebih baik daripada bulan sebelumnya.

Hal itu seperti diutarakan Ayong, salah seorang pedagang beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Senin (15/2).

Menurutnya, dia dengan dengan mudah menyetok beras sebanyak 20 ton per hari di Februari ini, sementara bulan lalu stok beras hanya15 ton per hari.

"Di bulan Februari ini stok beras aman. Mau beli beras berapa banyak pun ada, tidak ada pengaruh paceklik,” jelas dia.

Bukan tanpa sebab, kata Ayong, melimpahnya stok beras di Februari ini disebabkan karena adanya pasokan beras hasil panen petani yang saat ini sedang berlangsung. Tak hanya itu, musim paceklik di Februari 2016 ini juga diakuinya tidak mempengaruhi harga beras. Padahal, musim paceklik di Februari 2015 lalu, terjadi kenaikan harga sekitar Rp 800/kg.

Pedagang beras lainnya di PIBC, Ali, mengatakan hal senada, Menurut dia, Februari 2016 ini pasokan beras yang masuk di PIBC melimpah. Bahkan, dia mengaku bisa menyetok beras 20 ton hingga 30 ton per hari tanpa mengalami kesusahan. Jumlah beras yang keluar pulau jawa seperti ke Bangka dan Batam mencapai ratusan ribu ton per hari.

"Sedangkan di Januari 2016 kemarin, pasokan beras yang masuk ke Pasar Induk Beras Cipinang sedikit dan butuh waktu lama untuk menyetok beras. Kami hanya dapat menyetok beras 15 ton per hari itu pun butuh waktu yang cukup lama,” ujar Ali.

Informasi yang diperoleh dari kedua pedagang tersebut, diperoleh harga beras di PIBC saat ini yakni dari Rp 7.500 hingga Rp 13.000/kg. Harga ini menurun dibandingkan dengan harga sebelumnya mencapai Rp 10.000/kg ke atas. Adapun pasokan beras yang masuk ke PIBC saat ini yakni dari Solo, Indramayu, Karawang, Cianjur, dan Bandung.

Pengajar dan Peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (FEB UI), Rizal E Halim menilai bahwa anomali melimpahnya stok beras di Februari 2016 disebabkan sudah mulainya panen di beberapa daerah. Kelangkaan, kata dia, biasanya disebabkan perilaku nakal dari pelaku usaha atau pedagang yang tidak sehat di sektor perberasan.

Perilaku nakal tersebut, menurut dia, yakni pedagang beras banyak menyimpan berasnya di gudang dalam jangka waktu yang berbulan-bulan. Namun, mengetahui akan mulainya panen di bulan Februari dan menghindari terjadi kerugian yang cukup besar, pedagang mulai melepas berasnya tersebut ke pasar.

"Ini perilaku yang tidak benar, sebab tiba-tiba harga naik dan tiba-tiba drop. itu kan patut diduga akibat prilaku nakal dari pengusaha atau pembisnis. Pemerintah perlu menindak tegas pengusaha yang nakal,” tegas Rizal.
 
Untuk diketahui, stok beras di PIBC pada tanggal 9 Februari 2016 sebanyak 52.383 ton naik dua kali lipat dibandingkan periode yang sama Februari 2015 hanya 29.458 ton. Demikian juga stok beras naik 100% pada enam pasar sentra beras lainnya di Pasar Tanah Tinggi Tangerang, Pasar Johar Karawang, Caringin Bandung, Dargo Semarang, Bringharjo Yogyakarta dan Pasar Lamongan Surabaya.

Berdasarkan data dari Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian, bahwa pelaku perdagangan beras di Indonesia sekitar 180.000 pedagang dan penggilingan. Terdapat 26 pedagang kelas menengah dan besar, diantaranya tersebar 2 Pedagang besar Jawa Barat, 17 di Jawa Tengah,  2 di Jawa Timur dan 5 di Sulawesi Selatan. [sam]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA