
Kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman ke Indonesia tahun 2016 ditargetkan naik 20 persen dari tahun lalu menjadi 12 juta. Agar target bisa tercapai Menteri Pariwisata meminta ada penambahan
speed kinerja.
"Kalau lelet sudah hampir pasti gagal. Kalau selama ini berjalan pada kecepatan 50 km/jam, harus digenjot 4 kalinya menjadi 200 km/jam," kata Menteri Arief Yahya dalam pidatonya di penutupan Rakornas Pariwisata di Hotel Kempinski Jakarta.‎‎‎‎
Untuk itu, katanya, dalam capaian dan kinerja yang terpenting bukan pada proses birokrasi yang susah diajak berlari lebih kencang.‎ Presiden Jokowi sendiri, kata Arief, sudah menginstruksikan untuk deregulasi, dari 42.000 peraturan, disederhanakan atau dipangkas sampai separohnya.‎‎
"Ingat, persaingan itu yang cepat memakan yang lelet, bukan yang besar memakan yang kecil," tegas Menpar.‎‎
Doktor ekonomi cumlaude Unpad Bandung ini pun memberikan prioritas yang perlu dikerjakan. Pilih yang high urgency-high importancy dulu, yang mendesak dan penting. Pilihan kedua, yang mendesak meskipun tidak terlalu penting. Pilihan ketiga, tidak mendesak tapi penting. Dan pilihan terakhir yang tidak mendesak dan juga tidak terlalu penting.‎
Menpar menyimpulkan tiga hal untuk ditindaklanjuti. Pertama, Rakornas Kepariwisataan perlu terus dilakukan setiap tiga bulan, untuk mereport target, capaian, perkembangan terbaru dan taktik strategi ke depan. Kedua, membentuk Forum Akselerasi Pengembangan Pariwisata Indonesia yang nyambung dengan keinginan Presiden Jokowi, bahwa 2016 adalah Tahun Percepatan.
"Ketiga, memanfaatkan IT untuk akselerasi pembangunan tersebut," tukasnya.‎
[dem]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: