"Publik internasional seolah dipaksa untuk memihak satu dari kedua fenomena itu. Jika tidak segera diurai maka ancaman yang diakibatkan akan berkelanjutan," kata Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS), KH Hasyim Muzadi, dalam keterangan beberapa saat lalu.
Mantan Ketua Umum PBNU ini menyebutkan, tak ada jalan lain untuk mengurai dua fenomena mengkhawatirkan itu kecuali pertama, kembali menerapkan Islam sesuai wajah aslinya yang ramah, bukan marah seperti yang telah disalahpahami oleh sebagian kalangan Muslim. Kedua, meminimalisir gejolak islamofobia. Cara yang pertama dinilai lebih efektif dengan mempersipakan imunitas di internal umat Islam.
Ia menyebutkan, Islam di Asia Tenggara identik dengan wajahnya ramah seperti Indonesia, Malaysia, Brunia, dan Thailand Selatan. Ia berharap, para pemimpin ASEAN tidak terjebak dalam keberpihakan baik terhadap terorisme ataupun anti-terorisme," ungkap Hasyim.
Senin kemarin (23/11), Konferensi ICIS ke-IV yang berlangsung di UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang dinuka. Konferensi ini akan berlangsung hingga November. Konferensi dengan tema "Upholding Islam as Rahmatan Lil Alamin (Blessing for Universe): Capitalizing Intellectuality and Spirituality toward the Better Life for Human Beings" ini dihadiri oleh 65 tokoh agama dan ulama berpengaruh dari 34 negara.
[ysa]
BERITA TERKAIT: