MENEROBOS ISAREL, MELIHAT PALESTINA (12)

Akankah Al-Aqsha Dihancurkan Seperti Masjid Berumur 465 Tahun Di India

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/muhammad-rusmadi-5'>MUHAMMAD RUSMADI</a>
OLEH: MUHAMMAD RUSMADI
  • Senin, 16 November 2015, 02:02 WIB
Akankah Al-Aqsha Dihancurkan Seperti Masjid Berumur 465 Tahun Di India
muhammad rusmadi
PADA 26 hingga 31 Oktober lalu, wartawan Rakyat Merdeka, Muhammad Rusmadi mengikuti The Rambam Israel Fellowship Program di Israel, yang disponsori oleh Australia/Israel & Jewish Affairs Council (AIJAC). Berikut laporannya:

SAYA masih bertanya-tanya, apakah ummat Yahudi mungkin membenci ummat Islam, terutama karena di atas Temple Mount yang mereka anggap suci ini berdiri Masjid al-Aqsha? Atau, jangan-jangan suatu hari, mereka akhirnya menghancurkan masjid ini, karena dianggap menodai tempat suci mereka?

Saya teringat pada Masjid Babri (Babur) yang berumur 465 tahun (dibangun pada 1527) di Kota Ayodhya, Distrik Faizabad, Uttar Pradesh, India, di Bukit Ramkot Hill (Benteng Rama). Masjid itu kini sudah tak ada lagi, karena dihancurkan oleh tak kurang dari 150 ribu kelompok nasional militan Hindu India pada 6 December 1992.

Jaminan Mahkamah Agung India yang berjanji menjaga masjid tersebut tak mempan. Lebih dari 2000 orang tewas saat itu, termasuk di Mumbai dan Delhi. Pasalnya, masjid itu dibangun di wilayah yang diyakini ummat Hindu sebagai tempat kelahiran Dewa Rama.

Hanya beberapa langkah saat akan meningalkan al-Aqsha, saya terkaget-kaget mendengar teriakan takbir, Allaaahu Akbar! Allaaahu Akbar! (Allah Maha Besar).” Pekikan itu bersahut-sahutan, menggema ke seantero lapangan belakang masjid.

Rupanya, teriakan itu dari kaum Murabithun, para pria Muslim yang sengaja berada di area luar al-Aqsha, yang berjaga” dan mengawasi setiap pengunjung area al-Aqsha. Pagi itu, mereka duduk-duduk melingkar di taman bagian atas halaman belakang masjid. Umumnya mereka adalah pria-pria tua. Sebagian ada yang mengenakan kafeyah/sorban.

Setiap kali ada orang-orang Yahudi yang memasuki komplek masjid, meski sebenarnya tidak memasuki bangunan masjid, mereka meneriakkan kalimat-kaliat takbir tadi dengan lantang ke arah peziarah Yahudi yang pagi itu berziarah. Meski halaman belakang masjid ini tidak termasuk bangunan fisik masjid, namun mereka menganggap termasuk area dalam al-Aqsha atau al-Harm as-Syarif (Tanah Suci yang Mulia), dan hanya diperuntukkan berdoa bagi ummat Islam.

Hal ini memang sudah disepakati oleh kedua unit pengamanan area dalam al-Aqsha, baik oleh polisi Israel atau Satuan Waqf Islam Yerusalem (biasa disingkat Waqf), yang berada di bawah pemerintahan Yordania.

Murabithun berganti-ganti tugas dengan Murabithat (kaum wanita penjaga al-Aqsha). Malah Murabithat seringkali lebih berani” menghadang berhadapan langsung peziarah Yahudi yang akan berdoa. Meski hanya sekedar melintas.

Terlihat dilematis memang. Di satu pihak, ummat Yahudi merasa Temple Mount adalah tempat paling suci mereka. Di samping mereka merasa memiliki ajaran yang lebih tua, tak hanya dari ajaran Kristiani, apalagi Islam, tapi mereka merasa terus diganggu saat akan berdoa di sana, bahkan merasa dilecehkan. Tentu, saya tidak melihat sisi benar-salah konsep keagamaan masing-masing, mana yang menyimpang, karena perdebatan teologis takkan pernah selesai.     

Di sisi lain, kaum Muslim Palestina terutama, mereka terus merasa khawatir, ketika konflik perebutan wilayah dengan Israel tak kunjung selesai, bahkan mereka terus merasa kehilangan tanah mereka. Sekalipun sudah melibatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan dunia internasional. Tak heran, ummat Islam juga sangat khawatir, Temple Mount akan dikuasasi sepenuhnya oleh Israel sendiri, lalu al-Aqsha akan diambil hingga dihancurkan. Tapi, benarkah demikian?

Lalu, kenapa Israel setelah mengusai Yerusalem pada Perang Enam Hari pada Juni 1967, masih mau berunding? Bahkan kembali mengizinkan Waqf ini terlibat ikut menjaga al-Harm asy-Syarif?
Saat saya berondong dengan rentetan pertanyaan ini, Roley Horowitz, guide kami yang Yahudi Israel cuma menahan senyum. Dia misalnya menegaskan, tidak ada orang Yahudi yang berdoa di dalam Masjid al-Aqsha. Sekali pun ada, mereka pasti berdoa di luar masjid. Setidaknya, di bagian Temple Mount ini. Itu pun, lanjutnya, kalau ketahuan baik oleh polisi Israel atau Waqf, mereka akan langsung diminta keluar dari area bukit ini.

Tapi, ujar Roley lagi, secara resmi, Dewan Rabbi Israel (semacam Majelis Ulama Indonesia) tegas-tegas melarang ummat Yahudi berdoa ke Temple Mount, karena dianggap melanggar hukum kitab suci Yahudi, Torah (Taurat). Makanya, kamu tadi kan lihat, serombongan orang Yahudi yang masuk sebelum kita, dikawal ketat oleh polisi Israel dan Waqf?” ingatnya.

Saya baru sadar, ternyata kaum Murabithun itu tengah meneriakkan takbir ke arah rombongan Yahudi Israel yang tadi mengantri persis di depan kami, saat di pintu pemeriksaan pertama. Namun para Murabithun ini tidak menghadang langkah mereka. Para peziarah Yahudi ini tampak terus berjalan agak menunduk, tanpa memedulikan para Murabithun yang meneriaki mereka. Bersambung...

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA