Silatnas Golkar bisa dibaca dalam konteks politik nasional. Golkar merupakan salah satu kekuatan yang pantas diperhitungkan oleh siapapun yang berkuasa, atau oleh siapa pun yang mau berkuasa. "Ideologi kekaryaan" Golkar sendiri rasanya sulit bila terus menerus berada di luar kekuasaan.
Dalam konteks ini, maka Silatnas Golkar merupakan ekspresi pohon beringin yang sudah mulai terlalu kelelahan menghadapi persoalan dari dalam. Golkar akan siap-siap menyongsong kembali masuk ke dalam lingkaran kekuasaan, yang tentu saja bersyarat; Golkar harus solid.
Silatnas adalah pembuktian bahwa Golkar siap bersatu dan bergandengan tangan "untuk berkarya lagi" di pemerintahan. Lebih-lebih Koalisi Merah Putih (KMP) kian mandul dan kian tak relevan, seperti baru-baru ini terlihat dari masalah RAPBN 2016
Ini satu bacaan. Pembacaan lain, malah bisa saja Golkar justru mau merebut kekuasaan, yang diakui atau tidak, penerimaan publik pada pemerintahan Jokowi semakin tipis saja. Pemerintahan Jokowi, sebab memang nama JK jarang disatukan dan dipadankan pada Jokowi. Kritik publik pun seakan-akan terfokus pada Jokowi, dan sedikit melupakan atau sengaja meminimalisir kritik pada JK.
Artinya apa? JK, yang menjadi Wapres "tanpa kaki" bisa saja mulai menarik gerbong Golkar untuk kembali mendominasi kekuasaan atau bahkan mengendalikan kekuasaan. JK, yang mantan ketua Umum Partai Golkar itu, tentu saja juga memberikan syarat dan ketentuan pada kader lain: Golkar solid dong!
Tentu saja waktu yang akan membuktikan pembacaan jenis ini.
[ysa]
BERITA TERKAIT: