Harian Rakyat Merdeka, 20 Agustus lalu, pernah wawancara eksklusif dengan Shamsi Ali. Siapa Shamsi Ali?
Shamsi Ali menamatkan Sekolah Dasar di Kecamatan Kajang, Bulukumba. Lalu, SMP dan SMA di Pondok Pesantren Darul Arqam Gombara, Makassar. Setahun setelah tamat pesantren 1987, Shamsi Ali sekolah di Universitas Islam Internasional, Islamabad, Pakistan. Mendapat beasiswa dari Rabithah Alam Islami. Jenjang S1 di bidang Tafsir selesai 1992. Dan S2 di tahun 1994, bidang Perbandingan Agama.
Sambil kuliah, Shamsi juga mengajar di sekolah Saudi Red Crescent Society di Islamabad. Dari situlah, dia ditawari mengajar pada the Islamic Education Foundation, Jeddah, Arab Saudi, tahun 1995. Saat musim haji 1996, Shamsi Ali berceramah di Konjen RI di Jeddah, dan bertemu sejumlah jamaah, termasuk Dubes RI untuk PBB Nugroho Wisnumurti, yang menawarinya datang ke New York. Maka, sejak 1997, Shamsi Ali menjadi New Yorker, sebutan untuk orang yang menetap di New York.
Saat ini, Shamsi Ali adalah Ketua Masjid Al-Hikmah di Astoria dan Direktur Jamaica Muslim Center di Queens. Beliau ulama tafsir yang fasih berbicara Indonesia, Inggris, Arab dan Urdu. Sering pidato di forum PBB dan kontributor tamu media untuk ABC, PBS, BBC World, CNN, Fox News, National Geographic, al-Jazeera dan Hallmark Channel.
Shamsi Ali dianugerahi sebagai satu dari 100 penerima the 2009 Ellis Island Medal of Honor Award. Medali emas bergengsi non militer sebagai pengakuan tertinggi untuk imigran yang berkontribusi luar biasa kepada masyarakat Amerika dan dunia. Shamsi dianggap telah membangun jembatan antara komunitas agama.
Shamsi Ali termasuk tujuh pemimpin agama yang paling berpengaruh di New York. Tahun 2009, 2010, 2011 dan 2012, terpilih sebagai salah satu 500 Muslim paling berpengaruh di dunia oleh Studi Islam Royal Center Strategis di Yordania dan Universitas Georgetown. Shamsi adalah tokoh penggagas dialog antaragama, membantu warga mempelajari Islam, mengubah bahasa kutbah dari Arab ke bahasa Inggris, berkeliling ceramah untuk menebar perdamaian. Bukanlah hal mudah melakukan itu di Amerika, karena dibutuhkan proses adu argumentasi yang apik, teologis, hakiki dan politis. Juga harus didukung tingkah tauladan sebagai muslim.
Kenapa dialog antar-agama itu penting? Menurut Shamsi Ali, dialog antar agama bukan berarti menyatukan agama-agama, tapi mencari sisi-sisi kesamaan yang bisa membuat keterhubungan. Kesamaan paling utama adalah kerjasama atau hidup harmoni. Islam harus lebih banyak disosialisasikan dan menghindari kontroversi. Yang terbaik adalah membangun pemahaman Islam yang berkarakter terbuka, inklusif dan berkeadilan universal, bersikap toleran dan bekerjasama.
Menurut Shamsi Ali, umat Islam harus ikut berperan di tengah kemajuan teknologi saat ini. Jika diam saja, akan tergerus globalisasi. Umat Islam juga harus bersikap terbuka, mengubah mindset, aktif dan berkontribusi di masyarakat. Harus berusaha melakukan sesuatu, bukan sekedar berusaha mendapatkan sesuatu.
[ysa]
BERITA TERKAIT: