Ketika Maruarar Sirait Minta Agus Martowardojo Jelaskan Nasionalisme Sempit...
‎RMOL. Nasionalisme sesekali dibenturkan dengan konsep ekonomi global. Bahkan ada yang menilai bahwa gagasan nasionalisme sama saja over-proteksi di tengah dunia yang semakin tanpa batas. Ada juga yang menilai, nasionalisme tetap relevan di tengah gempuran pasar bebas.
Namun ternyata tak mudah membicarakan dan menjelaskan nasionalisme dan ekonomi. Bahkan orang sekaliber Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardoyo, pun nampak kaku ketika diminta menjelaskan.‎
‎Adalah Maruarar Sirait, Ketua Umum DPP Tarun‎a Merah Putih (TMP) yang meminta penjelasan Agus Mario atas makna ucapannya, yang menyebut bahwa pembangunan ekonomi tak bisa dilaksanakan dengan 'nasionalisme sempit'. Ucapan itu disampaikan dalam forum dialog yang digelar TMP, di Menteng, Jakarta, bertema "Peluang dan Tantangan Ekonomi Indonesia Sekarang dan 2016" di kantor TMP, Jalan Cik Ditiro, Menteng, Jakarta (Rabu (19/8).Â
Awalnya, Agus Marto menyebutkan optimismenya atas kondisi perekonomian Indonesia yang akan tahan menghadapi kondisi saat ini. Menurut dia, yang harus dilihat adalah bagaimana mengubah negara Indonesia yang berbasis impor dan konsumsi, menjadi produsen. Agus Marto meminta agar semuanya tak dilakukan dengan 'nasionalisme sempit'.
‎Maruarar, yang menjadi moderator acara itu, lalu menyela Agus dan memintanya menjelaskan maknanya. ‎"Tolong diperjelas apa makna nasionalisme sempit itu. Supaya menjadi jelas bagi semuanya," kata Ara, sapaan akrabnya.‎
‎Agus Marto terlihat agak gelagapan dengan permintaan penjelasan itu. Dia lalu memilih untuk menjelaskan hal lain. Yakni soal komitmen Bank Indonesia menjaga sektor makroprudensial.
Agus Martowardoyo juga memuji Pemerintah yang memiliki komitmen membangun daerah dan UMKM melalui RAPBN 2016. BI memprediksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan bisa mencapai 5,5 persen. ‎
‎Secara khusus, dia mendorong agar pengusaha pemula agar memanfaatkan fasilitas subsidi bunga pemerintah lewat pinjaman kepada UMKM.
‎"Generasi muda harus pakai ini. Banyak pengusaha sukses dengan menggunakan fasilitas sejenis. Saatnya Indonesia bangkit. Jangan jadi karyawan, jadilah pengusaha seperti Bahlil (Ketum HIPMI)."
‎Dia juga mendorong agar Indonesia memiliki daya saing, dan bisa meningkatkan kemandirian. Sehingga ke depan, bahan pangan seperti garam dan ikan tak lagi diimpor. ‎[ysa]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: