Demikian disampaikan Waketum Kadin bidang Perbankan dan Keuangan, Rosan P. Roeslani, dalam diskusi dengan tema "Peluang dan Tantangan Ekonomi Indonesia Sekarang dan 2016" yang digelar Taruna Merah Putih (TMP) di kantor TMP, Jalan Cik Ditiro, Menteng, Jakarta Pusat (Rabu, 19/8).
Selain Rosan, hadir sebagai pembicara Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, dan Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad. Sementara itu, Ketua Umum TMP, Maruarar Sirait, bertindak sebagai moderator. Hadir juga dalam diskusi ini Dirut BNI Baiquni, Dirut Mandiri Budi Sadikin, Dirut BRI Asmawi, serta pengusaha, pelaku ekonomi seperti perwakilan dari Real Estate Indonesia, pengamat ekonomi, politisi dan aktivis gerakan mahasiswa.
"Mari berunding di sini, unsur elemen ada di sini. Jadi memang selama 10 tahun terakhir, kita nikmati pertumbuhan tinggi. Tapi selama ini kita terlena sehingga pertumbuhan semu ditunjang harga komoditas tinggi. Padahal harga itu di luar kontrol kita. Yang menentukan adalah dunia. Nasib kita ditentukan dunia. Contoh batubara 2011, 135 dolar AS perton. Sekarang 55 dolar AS USD saja. Penurunannya sangat besar," ungkap Rosan.
Selama ini, lanjut Rosan, Indonesia lupa membangun industri. Dan di saat yang sama, tak ada negara yang
sustainbable tanpa pertumbuhan kuat. Ironisnya, industri bukan berkembang tapi malah menurun.
"Ini yang kita rasakan. Rupiah turun karena impor kita lebih banyak. Kenapa? Karena lupa bangun industri kita. Maka pemerintah harus keluarkan industrial policy. Dulu ada
industrial policy sehingga berkembang," ungkapnya,
selain itu, lanjut Rosan, harus juga ada kebijakan insentif pajak dan ekspor, iklim usaha yang mendukung, akses permodalan yang tidak rumit dan lain-lain. Korea Selatan pun bisa menjadi contoh, ketika pada 1998 mengalami krisis namun 10 tahun kemudian bisa membangun industri yang sangat kuat.
"Kenapa kita tak bisa? Kita bisa kalau pemerintah dorong industri, dan ada skala prioritas induitri yang mau dibangun. Karena banyak keterbatasan kita seperti modal. Mari duduk bersama cari pemecahan permanen dan global. Pemecahan tak boleh sifatnya temporer. Untuk perkuat rupiah, mari perkuat suku bunga," demikian Roosan.
[ysa]
BERITA TERKAIT: