Sudah Betul Itu, Presiden Jokowi Nolak Tanda-tangan Proyek DPR

Minggu, 16 Agustus 2015, 08:37 WIB
Sudah Betul Itu, Presiden Jokowi Nolak Tanda-tangan Proyek DPR
Jusuf Kalla/net
rmol news logo Publik media sosial mendukung putusan Presiden Jokowi menolak resmikan 7 proyek DPR. Tweeps menilai langkah Jokowi sudah betul. Sebagian menyebut itu pencitraan.

Masyarakat pemilik akun media sosial ramai mengomentari berita tentang keputusan Presiden Jokowi. Umumnya mereka membela pemerintah bukan parlemen.

Akun @meity, misalnya, menilai langkah Presiden Jokowi tolak peresmian tujuh proyek milik DPR sudah betul. "Ngapain presiden resmikan proyek yang belum jelas," cuitnya.

Akun @dwipantara yakin, lang­kah Presiden tersebut bakal didu­kung mayoritas rakyat Indonesia. Sebab, masyarakat sekarang lebih percaya kepada Jokowi ketimbang anggota parlemen. "Hehe, DPR kecele deh," ledeknya.

Akun @mohamadzulfikar meng­ingatkan, Presiden bisa terkena masalah, jika menyetujui langkah DPR membangun gedung baru menggu­nakan uang negara. "Mo ngejebak gagal nih ye," kicaunya.

Akun @indo menengarai, sikap menolak Presiden Jokowi akan merepotkan pimpinan DPR yang sudah gembar-gembor menjanjikan pembangunan. "Malu banget deh, rencana bau itu dicium presiden," ujarnya.

Akun @dillam berpendapat, ang­gota DPR terlalu gegabah menyo­dorkan proyek internal yang tidak berkaitan langsung dengan kepentin­gan rakyat Indonesia. "Orang dekat saja nggak berani sodorin proyek abal-abal. Lah ini DPR terlalu nekat," kicaunya.

Akun @wong mengaku salut kepada Presiden karena berani meno­lak menandatangani prasasti pem­bangunan proyek di DPR. "Jangan sampai Presiden kena jebakan halus," katanya.

Akun @bokir heran anggota DPR yang menurutnya minim prestasi dan kinerja ngotot menggolkan proyek pembangunan gedung baru. "Kerja nggak becus, sering bolos, suka provokasi kok ngarep yang mewah-mewah," cuitnya.

Akun @liiba mengingatkan pimpi­nan DPRtidak lagi menyorongkan proyek pembangunan gedung baru tahun depan. "Masih banyak proyek penting yang lebih dibutuhkan oleh rakyat Indonesia," katanya.

Akun @sanny menilai, langkah penolakan sebagai bukti Presiden Jokowi lebih memihak kepentingan rakyat ketimbang kepentingan pejabat negara. "Harusnya DPR kita malu lihat masih banyak rakyat miskin. Duit DPR untuk rakyat seharusnya," ujarnya.

Akun @theoasompie bilang, lebih baik Presiden Jokowi menggunakan anggaran negara untuk membangun jembatan, rumah murah bagi rakyat kecil dan rumah sakit. "Ngapai ban­gun proyek mewah-mewah untuk DPR," hasutnya.

Akun @brama mengingatkan, Presiden Jokowi agar berhati-hati menandatangi setiap proyek yang diajukan DPR. Begitu juga proyek yang diajukan anak buah. "Awas ng­gak teliti Presiden bisa jadi kambing hitam," ingatnya.

Akun @agustinus menganggap, belum saatny anggota DPR mem­bangun kantor dan tempat tinggal mewah di kompleks Senayan saat ini. "Lebih baik DPR sukseskan dulu program pembangunan satu juta rumah bagi warga ekonomi lemah," katanya.

Berbeda, @rudimz menduga, Jokowi sengaja bermanuver menolak proyek DPR untuk menutupi berita seputar kritikan masyarakat terkait pidato kenegaraannya di sidang ta­hunan MPR yang penuh janji manis. "Penolakan ini sengaja dilontarkan untuk menutupi pidato konyol plus omong kosong di sidang MPR. Pemerintah sedang stres dolar sam­pai harga daging naik," duganya.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa Presiden Jokowi belum akan meresmikan pembangunan tu­juh proyek di DPR sebelum proyek tersebut selesai dikerjakan. Menurut Kalla, pemerintah sudah berjalan se­suai prosedur dan penolakan meres­mikan pembangunan itu diambil untuk menghindari masalah.

"Prasasti itu ditandatangani ka­lau setelah dibuat, bukan sebelum dibuat. Ini kan baru rencana (pem­bangunan), mau teken apa?" kata Kalla.

Kalla mengungkapkan, DPR seharusnya menyampaikan rencana pembangunan secara komplet beri­kut rancangan anggaran pembangu­nannya. Setelah itu, rencana pembangunan harus disetujui bersama antara DPR dan pemerintah.

Kata Kalla, pemerintah belum se­cara resmi memberikan persetujuan pada DPR tentang pembangunan tujuh proyek tersebut. Pembicaraan yang dilakukan baru sebatas infor­mal.

"Kalau belum disetujui anggarannya langsung teken itu kan fait accompli, kita tidak ingin itu," ujarnya.

Seusai sidang tahunan MPR/DPR/DPD Presiden Joko Widodo meno­lak untuk meresmikan pembangunan tujuh proyek di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.

Jokowi ingin ada usulan yang jelas terlebih dahulu dari DPR sebelum meresmikan proyek ini. "Jadi, Presiden ingin agar proyek ini clear dulu. Baru, setelah ada proses, kita bicarakan ke mana arahnya," kata Ketua Tim Implementasi Reformasi Parlemen Fahri Hamzah.

Selain museum dan perpustakaan, proyek lain yang direncanakan akan dibangun oleh DPR adalah alun-alun demokrasi, jalan akses bagi tamu ke Gedung DPR, visitor center, pembangunan ruang pusat kajian legislasi, pembangunan ruang ang­gota dan tenaga ahli, serta integrasi kawasan tempat tinggal dan tempat kerja anggota DPR. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA