Kehadirannya di atas panggung politik Indonesia diyakini dapat mengubah mengocok ulang perubahan dan memodernisasi Indonesia. Tetapi faktanya, setelah sembilan bulan berkuasa Jokowi masih jadi orang luar, tidai diperhitungkan kelompok elit yang mendominasi Indonesia.
Akibatnya, banyak rencana Jokowi yang tak jalan karena friksi politik di tingkat internal yang terlalu besar.
Demikian antara lain ulasan
Wall Street Journal edisi hari ini (Kamis, 23/7).
WSJ juga menyoroti peranan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang secara
de facto memiliki pengaruh sangat besar di balik Jokowi.
Jokowi sendiri mengakui bahwa dirinya harus menggelar pertemuan-pertemuan khusus dengan kelompok elit politik yang mendukungnya dalam Pilpres 2014 lalu. Namun demikian,
WSJ mengutip, Jokowi mengaku tidak mendapatkan tekanan dari kelompok elit ini.
WSJ pun menyoroti konflik antara Jokowi dengan Wapres Jusuf Kalla dalam sejumlah persoalan, mulai dari urusan PSSI sampai urusan KPK. Belum lagi, sejumlah menteri di Kabiner Kerja juga pejabat pemerintahan terkadang mengeluarkan pernyataan yang bertentangan dengan pernyataan Jokowi.
"Beberapa investor khawatir apakah penampilan naif Tuan Jokowi menambah daftar hambatan," tulis
WSJ Wacana kocok ulang Kabinet Kerja yang tertunda juga memperlihatkan betapa Jokowi kurang pengalaman.
[dem]
BERITA TERKAIT: