"Fokus pada isu yang akan diperjuangkan. Semoga May Day tahun ini bisa lebih baik dari tahun sebelumnya khususnya terealisasi dengan baik," kata dia dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi.
Menurut Ansory, ada lima hal yang menjadi isu sentral buruh pada peringatan Mayday 2015. Pertama, menolak politik upah murah dengan kenaikan upah minimum provinsi/kota (UMP/K) sebesar 32% dan menolak kenaikan upah 5 tahun sekali serta mendesak pemerintah untuk merubah standar kebutuhan hidup layak (KHL) menjadi 84 item dari 60 Item KHL.
Kedua, mendesak pemerintah untuk segera menghapus sistem kerja Outsourcing khususnya di Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ketiga, menolak kenaikan harga BBM, Elpiji, tarif dasar listrik (TDL) sesuai harga pasar dan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Keempat, End Coorporate Greed (Akhiri Keserakahan Korporasi).
"Dasar tuntutan ini jelas, yakni selama ini perusahaan-perusahaan besar atau korporasi besar tidak mau sharing profit secara fair dalam bentuk upah layak, jaminan sosial dan pajak untuk wujudkan kesejahteraan buruh serta menanggulangi kemiskinan rakyat Indonesia, maka selamanya buruh dan rakyat tidak akan hidup sejahtera akibat rakusnya para pengusaha tersebut," papar Ansory.
Sementara kelima, lanjut Ansory, mendesak pemerintah untuk mencabut aturan tentang Objek Vital dan Stop tindakan Union Busting (bumi hangus serikat pekerja) dan kekerasan terhadap aktivis buruh.
"Itu point-point yang strategis pada aksi besok," jelas ansory.
Menurut Ansory, hal ini sesuai dengan visi dan misi bapak Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tertuang dalam Nawacita point ke 5, 6 dan 7. "Semua visi misi Presiden hendaknya segera diwujudkan dalam tahun pertama pemerintahan kabinet kerja ini, sehingga harapan rakyat khususnya buruh/pekerja bisa terealisasi dengan baik," kata Ansory.
[dem]
BERITA TERKAIT: