Tiga hari pasca kejadian, Divisi Penanganan Bencana Nasional Kementerian Dalam Negeri Nepal mencatat korban tewas mencapai 3.218 dan lebih dari 6.500 warga terluka.
Mengapa gempa yang terjadi pada Sabtu (25/4) lalu itu menelan banyak korban jiwa?
"Sebenarnya yang membunuh ribuan orang itu bukan gempa buminya, namun karena bangunan di daerah itu. Disana bangunan berdiri dengan rapatnya," kata Seismolog James Jackson seperti dilansir
Nepal11Radio.
Dikatakannya, getaran gempa akan terasa semakin besar efeknya karena kontruksi dan populasi bangunan di daerah tersebut.
Gempa dahsyat di Kathmandu sebenarnya telah dikawatirkan sejak lama oleh para ilmuwan gempa dunia. Mereka khawatir karena kondisi lokal yang tidak memperhatikan kontur tanah dalam membangun rumah.
Bahkan, dikatakan Jackson, seminggu sebelum gempa 7,9 SR terjadi, ada 50 pakar gempa bumi dan ilmuan sosial dari seluruh dunia datang ke Kathmandu untuk membicarakan bagaimana cara mengurangi dampak dari gempa yang sewaktu-waktu akan mengguncang daerah tersebut.
Mereka membahas hal itu karena tahu daerah tersebut memiliki potensi untuk terjadi gempa yang dahsyat seperti yang pernah terjadi pada tahun 1934 di daerah yang sama, namun tidak mengetahui kapan waktu pastinya bencana ini akan terjadi.
"Aku sedang berjalan melalui daerah di mana gempa itu dan saya pikir pada saat itu daerah itu menuju masalah yang sangat besar. Itu semacam mimpi buruk yang menunggu untuk terjadi," kata Jackson yang menjabat Kepala Departemen Ilmu Bumi University of Cambridge ini.
[dem]
BERITA TERKAIT: