Karena itu, Wapres menginstruksikan Badan Urusan Logistik (Bulog) agar segera menyalurkan raskin.
"Untuk mengatasi kekurangan ini, Bulog segera keluarkan raskin 300 ribu ton," sebut dia saat memimpin rapat tentang stabilitas harga beras di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Senin (23/2).
Wapres memperkirakan, kenaikan harga beras disebabkan faktor suplai, karena permintaan beras tidak berubah. Namun demikian, Wapres mengingatkan, kenaikan harga pangan, sangat mempengaruhi kondisi masyarakat golongan bawah, karena 60 persen pengeluaran mereka untuk membeli beras.
"Kenaikan Rp 1.000 hingga Rp. 2.000 per kg sangat terasa berat bagi masyarakat golongan bawah," ungkap JK.
Dijelaskannya, jumlah penduduk Indonesia sebanyak 250 juta. Kebutuhan beras sebesar 128 kg setiap penduduk per tahun, artinya Indonesia membutuhkan beras sebanyak 32 juta ton dalam satu tahun. Kebutuhan setiap bulannya adalah 2,66 juta ton/bulan. "Mestinya suplai ini ada di pasar, termasuk raskin 232 ribu ton atau 9 persen dari suplai," ujarnya.
Namun, lanjut Wapres, selama tiga bulan ini, penyaluran raskin tidak berjalan lancar karena masalah administrasi. Ia menyebut, hal nilah yang menjadi penyebab defisit suplai beras sehingga beras mengalami kenaikan harga.
"Jadi, orang miskin yang biasa membeli beras seharga Rp 1.600/kg, kini selama 3 bulan membeli Rp 8.000/kg," terangnya.
Untuk mengatasi kekurangan itulah, Wapres meminta Bulog segera mengeluarkan raskin 300 ribu ton.
Sementara untuk memperlancar penyalurannya, Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri akan mengingatkan pemerintah daerah untuk mengajukan Surat Penentuan Alokasi (SPA) agar Bulog dapat segera melakukan penyaluran kekurangan raskin.
"Kekurangan raskin ini diambil dari cadangan Bulog, karena saat ini ketersediaan cadangan Bulog sebesar 1,4 juta ton, dan pada bulan Maret 2015 diperkirakan telah mulai panen, bahkan pada bulan April 2015 sudah panen raya," demikian mantan ketua umum Golkar ini dilansir dari laman
Setkab.
[rus]
BERITA TERKAIT: