Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Odang menjelaskan, maksud dari penyegaran dalam ajang tersebut adalah dalam rangka evaluasi metode MPR dalam mensosialisasikan empat pilar kebangsaan tersebut.
Oso, begitu ia disapa, menilai bahwa perlu ada inovasi baru dalam menyosialisasikan pilar-pilar kebangsaan agar lebih efektif dan efisien mengena langsung ke masyarakat.
"Jangan salahkan 'lho kok kamu nggak mau dengar lagi Pancasila'. Itu terjadi karena sudah tidak populer menyesuaikannya," ujarnya di Hotel JW Marriot, Kuningan, Jakarta (Jumat, 13/2).
Sosialisasi, lanjut Oso, tidak boleh monoton maupun menjenuhkan. Mekanisme sosialisasi harus tepat sasaran siapa yang dituju. Contohnya, jika menyasar kawula muda maka gaya sosialisasinya harus menyesuaikan juga.
"Sistem sosialisasinya kita bisa menggunakan gaya-gaya anak sekarang. Misalnya, pakai baju bertulis 'I Love Indonesia' dan sebagainya yang kreatif, dan mudah diingat," jelasnya.
Tidak hanya itu, sosialisasi pilar kebangsaan juga bisa dilakukan melalui media massa baik online, cetak, dan televisi. Hal ini dirasa lebih efektif menyasar masyarakat secara keseluruhan.
"Kita sekarang harus lebih mendekati media karena itu akan sampai, dan buktinya kan ada. Termasuk lewat komik juga bisa," tandas Oso.
[why]
BERITA TERKAIT: