100 HARI JOKOWI-JK

Jumhur: Bila Tidak Hati-Hati, Pemerintah Bisa Seperti Sandwich

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Rabu, 28 Januari 2015, 13:18 WIB
Jumhur: Bila Tidak Hati-Hati, Pemerintah Bisa Seperti Sandwich
jumhur hidayat/net
rmol news logo . Presiden Joko Widodo perlu mendengarkan dengan objektif terhadap penilaian atas realita perjalanan pemerintahannya dalam 100 hari ini.

Demikian disampaikan Koordinator Nasional Aliansi Rakyat Merdeka (ARM), Moh Jumhur Hidayat, saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL beberapa saat lalu (Rabu, 28/1).

ARM merupakan kelompok relawan pendukung Jokowi-JK dalam Pilpres lalu. ARM merupakan kelompok relawan yang berjejaring sangat luas. Kelompok ini juga terkonsolidasi karena anggotanya buka perseorangan tapi organisasi seperti organisasi buruh, kaki lima, UKM dan organisasi kepemudaan dan sebagainya.

"Memang benar tidak fair menyimpulkan bahwa sebuah pemerintahan berhasil atau gagal hanya dalam 100 hari. Namun begitu, tetap harus mewaspadai trend-trend dari masing-masing kementerian dan lembaga di bawah presiden," kata Jumhur.

Dalam hal ini, lanjut Jumhur, perlu juga dievaluasi apakah para menteri dan kepala lembaga itu bekerja keras, cerdas dan bijak atau mungkin memang tidak bekerja serius. Perlu juga dievaluasi dan dilihat bagi yang sudah bekerja, apakah itu hanya kerja keras saja tapi tidak cerdas dan bijak atau memang kerja keras yang cerdas dan bijak.

"Ada sebuah ungkapan bila ada seseorang yang punya kuasa bekerja keras namun tidak dalam sebuah visi yang jelas, maka lebih baik berhenti saja kerjanya karena akan miliki daya rusak yang luas juga. Saya rasa Presiden harus melihat menteri-menterinya dalam perspektif ini juga dan kemudian segera mengambil langkah 'pelurusam'," ungkap Jumhur.

Jumhur juga mengingatkan, tak boleh menganggap enteng berbagai pemberitaan bahwa semakin banyak Relawan Pemenangan Jokowi-JK yang sudah marah dan balik badan menyerang pemerintah. Selain tak boleh dianggap enteng, ini juga jangan dikomentari dengan sinis dan merendahkan.

"Hal ini perlu diingat karena umur pemerintahan baru 100 hari, sementara gejala perlawanan semakin meluas dan konsolidasi dari kelompok kepentingan khususnya buruh, gerakan miskin kota dan mahasiswa sedang dilakukan di mana-mana,' urai Jumhur.

Bila para relawan saja sudah balik badan, Jumhur melanjutkan, apalagi yang bukan pendukungnya. Dan tentu saja, pembiaran ini bisa membuat gerakan ekstra-parlementer meluas, sementara konsolidasi di parlemen yang "tidak happy" dengan Jokowi semakin menguat dengan dengan dalih desakan rakyat.

"Bila ini terjadi maka pemerintahan bisa seperti sandwich, yaitu terhimpit dari atas dan bawah sehingga sulit untuk bergerak. Semoga ini tidak terjadi karena bangsa ini yang akan rugi akibat tidak produktif. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA