Indro menilai, sebagai pelabuhan tersibuk di dunia, pelabuhan Malaka justru ikut terbantu dengan keberadaan terusan Kra Isthimus.
"Ya gak apa-apa ya, karena Kra itukan gak lewat selat Malaka, yang sampai sekarang merupakan selat paling sibuk di dunia, jadi justru meng-assist," sebut Indro yang ditemui di gedung BNPT, Jakarta hari ni (29/12).
Indro menambahkan, dengan rata-rata pergerakkan 10 ribu kapal niaga per tahun yang melalui selat Malaka, maka keberadaan terusan Kra Isthimus tidak akan mengancam prinsip poros maritim Indonesia.
"Tidak mengancam ya, karena Indonesia inikan penduduknya 250 juta, kita bisa menggerakkan ekonomi maritim kita sendiri tanpa bantuan dari luar, bisa kok," tutupnya.
[ysa]
BERITA TERKAIT: