Acara tahunan komunitas Depok ini akan diselenggarakan di area parkir LIA Depok dan Quadrant Futsal Hall, Jalan Margonda Raya. Pada perhelatan akbar DCF ketiga ini mengusung tema "Urban Civic Movement."
"Bila tahun pertama pada 2012 lalu kita mengangkat tema kreativitas, DCF kedua 2013 tentang solidaritas dan kolaborasi, tahun ini eranya komunitas bicara kota yang dihuninya. Mimpi memiliki kota yang atraktif dan penuh interaksi di ruang-ruang publik, direalisasikan dalam sebuah gerakan insiatif dari hobi dan interset masing-masing, yang kita sebut dengan gerakan warga perkotaan atau Urban Civic Movement," kata Ketua Panita DCF 2014, Desti Hafizho, dalam keterangan pers dikutip dari
depoklik.com.Desti, yang juga Ketua Hijab Community Depok menjelaskan, tema ini diangkat dari hasil diskusi bersama beberapa komunitas, akademisi dari UI, ITB, sentra-sentra komunitas, seperti Code Margonda dan Rumah Komunitas, aktivis karang taruna, beberapa remaja masjid, pakar perkotaan serta jurnalis yang concern terhadap aktivitas hyperlocal.
Ketua Indonesia Kijang Club (IKC) Chapter Depok, Krisdiyan, mengatakan, Urban Civic Movement menyentuh isu perkotaan dan dinilai tepat menjadi tema utama.
"Ruang publik kita masih minim, maka komunitas lah yang akan membuatnya sendiri melalui aktivitas-aktivitasnya nanti di kota ini, agar lebih hidup," ujarnya dalam acara Ngopi Bareng para ketua dan perwakilan komunitas di Coffee Toffee Cafe, di Jalan Margonda, Depok, Minggu lalu.
Dalam diskusi santai ini, hadir CEO Depoklik yang juga inisiator DCF tahun pertama, Coki Lubis dan pakar tata ruang perkotaan serta aktivis Rumah Komunitas, Emil Dardak, sebagai pembahas tema.
Coki mengatakan, DCF memang dilangsungkan dalam sehari, namun ini menjadi simbol bahwa warganya ingin kota tempat tinggalnya seperti "hari ini."
"Interaksi di mana-mana dan atraktif, kita melawan kemacetan, kecelakaan, polusi dengan hobi kita masing-masing, serta berharap agar kota ini dapat mendesain ulang konsepnya. Jangan didesain untuk kendaraan dan gedung, namun didesain untuk manusianya. DCF menyampaikan pesan bahwa kota ini harus enjoyable," tutur Coki.
Emil menambahkan, kunci dari perubahan kota ini untuk menjadi lebih nyaman, ada pada komunitas warganya.
"Komunitas terbukti dapat membawa warga Depok tidak lagi apatis terhadap kotanya sendiri. Tidak lagi membuat Depok sekadar ‘tempat tidur’ setelah Senin hingga Jumat bekerja di Jakarta dan cuek dengan keadaan sekitar. Namun bisa menghabiskan waktunya di sini dan mengekspresikan hobinya dengan nyaman. Itulah istimewanya Depok, perubahan dari komunitas warganya," tutur warga Cinere peraih predikat Doktor Ekonomi Pembangunan termuda di Asia Pasifik saat usianya 22 tahun itu.
Acara Ngopi Bareng adalah semacam "ritual" khas dalam menyambut DCF ketiga, yang dihadiri para ketua dan perwakilan komunitas.
Dalam diskusi yang dihadiri lebih dari 80 komunitas dari berbagai hobi dan interset ini, isu perkotaan menjadi perbincangan yang cukup menarik.
[ysa]
BERITA TERKAIT: