Hal yang lebih menarik juga terlihat dari partisipasi publik. Karena hanya ada dua calon yang muncul, publik akhirnya bertentangan secara diametral. Ketegangan pun tak dihindarkan, termasuk kekerasan verbal yang terus terjadi di dunia maya. Di lapangan, publik juga terbelah meskipun secara umum pilpres berjalan damai.
Persoalan kian mengkhawatirkan karena sentimen saat pilpres terus terbawa hingga kini. Saling hujat dan saling menyudutkan tak kunjung surut. Publik pun tak percaya dengan figur lain, di luar figur yang didukungnya.
Menganalisa fenomena seperti ini, pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Teguh Santosa, mengatakan bahwa saat ini Republik membutuhkan sosok yang berdiri dalam ruang abu-abu. Sosok ini penting hadir di saat publik terbelah dan merasa berdiri di garis putih, sementara yang lain dituduh berdiri di garis hitam.
"Sosok ini harus bisa menjembatani dua pihak sehingga persoalan tidak melulu dilihat secara hitam-putih. Lebih-lebih bila semua pihak juga memperjuangkan hal yang sama, yaitu keutuhan NKRI dan kesejahteraan rakyat," kata Teguh saat berbincang redaksi beberapa saat lalu (Selasa, 30/9).
Dalam konteks ini, Teguh mengatakan "pemain tengah" yang punya kemampuan menjadi pencair kebekuan politik adalah figur seperti alm. Taufik Kiemas. Semasa hidupnya, Taufik Kiemas berperan sebagai komunikator dan jembatan di antara beberapa kepentingan yang tampak bertubrukan.
"Kita butuh figur seperti alm. Pak TK," ujar dosen di London School of Public Relations, Jakarta, ini.
Dia membayangkan, kehadiran tokoh seperti alm. Taufik Kiemas itu membuat komunikasi politik kedua kubu seperti di dalam Paripurna DPR akhir pekan lalu akan berakhir dengan produktif dan tidak meninggalkan silang sengketa berkelanjutan.
"Saya berharap muncul sosok seperti alm. Pak TK baik dari PDIP maupun kubu lawan mereka," demikian Teguh.
[ysa]
BERITA TERKAIT: