Senin siang kemarin (15/9), dengan detail, Hashim menjelaskan pertemuannya dengan Ahok. Awalnya, Hashim kaget dengan kabar mundurnya Ahok. Lalu ia pun mengajak Ahok untuk berdialog. Apa daya, ternyata tekad Ahok meninggalkan Gerindra sudah kuat. Dalam jangka waktu 18 jam dari pernyataan di media, Ahok benar-benar mengirim surat pengunduran diri, dan itu pun lewat kurir.
Hashim curiga RUU Pilkada hanya alasan Ahok saja. Dalam arti, rencana mundurnya Ahok dari Gerindra sudah ada sejak lama. Dengan nada marah, Hashim pun mengatakan Ahok sebagai politisi yang tak punya tata krama.
Sikap Hashim yang menunjukkan kekesalannya pada Ahok di depan publik, bisa dikatakan sebagai jawaban atas kecurigaan sementara pihak.
Selama ini berkembang kecurigaan bahwa Ahok sebenarnya sedang bermain drama dengan Gerindra (
Baca: Mungkinkah Ahok Sedang Bermain Drama dengan Gerindra). Tujuan drama yang dimainkan adalah mengisi kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta. Dengan drama ini, Gerindra mau mengatakan, Ahok bukan lagi representatif Gerindra, sehingga Gerindra punya hak juga mengajukan wakil gubernur baru, bukan hanya PDI Perjuangan.
Dengan drama semacam ini, Gerindra punya tiga kemenangan. Mendapat gubernur, mendapat wakil gubernur, dan juga mengganggu posisi Jokowi di pentas nasional. Untuk kemenangan poin ketiga memang perlu penjelasan lebih detail lagi karena harus disertai dengan variabel yang lain.
Dan kekesalan Hashim di depan publik seakan menegaskan bahwa tidak ada panggung drama dengan Ahok. Ahok memang keluar dari Gerindra, tanpa restu dan izin dari Gerindra.
[ysa]
BERITA TERKAIT: