"Disinilah kita paham, mengapa Jokowi lebih suka berada di tengah rakyat. Itulah atribusi yang sebenarnya. Jokowi berada di hati rakyat," ujar kata peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jaleswari Pramodhawardani, beberapa saat lalu (Sabtu, 5/7).
Berdasarkan hasil analisis melalui inteligent management media (IMM), menurut Jaleswari, rakyat menilai positif blusukan yang dilakukan Jokowi. Sebab blusukan menjadi sarana efektif untuk menjadi pondasi kepercayaan antara rakyat dan pemimpinnya. Blusukan juga menghadirkan kekuasaan di pintu-pintu rakyat.
"Bahkan dengan blusukan, Pak Jokowi memiliki bekal terhadap gambaran riil rakyat Indonesia untuk diperjuangkan, khususnya di dalam merubah kemiskinan, kebodohan dan perasaan diperlakukan tidak adil," papar Jaleswari.
Selain blusukan, hal yang paling diingat terhadap Jokowi adalah model kepemimpinnanya yang partisipatoris, namun tegas ketika mengambil keputusan.
"Kemampuannya menertibkan pasar Tanah Abang, reformasi anggaran untuk kesejahteraan rakyat dan PNS, serta kemampuannya di dalam menyelesaikan masalah tanpa masalah telah menjadi identitas kuat terhadap kepemimpinan Jokowi," lanjut Jaleswari.
Masih kata Jaleswari, lebih dari 82 persen responden menyatakan puas atas cara-cara Jokowi menangani relokasi warga yang tinggal di Waduk Pluit. Sentuhannya sangat manusiawi dan rakyat merasa diperlakukan dengan penuh kehormatan, dan tidak seperti pemimpin lain yang baru turun menjelang kampanye.
[ysa]
BERITA TERKAIT: