"Fenomena
Jakarta Post bukan suatu yang baru dalam politik. Baik dalam konteks Indonesia maupun pengalaman di beberapa negara demokrasi," kata pengajar Ilmu Komunikasi Fisipol UGM Yogyakarta, IGN Putra, beberapa saat lalu (Jumat, 4/7).
Putra memberi contoh, di beberapa negara barat, dan bahkan negara tetangga Australia, koran-koran milik Rupert Murdoch sudah biasa mendukung kandidat dati partai liberal. Karena itu, sangat menarik untuk mencermati perkembangan pemanfaatan dan peranan media massa dalam pilpres 2014, ketika
Jakarta Post menyatakan berpihak dalam kebijakan editorialnya.
"Keberpihakan media terhadap kandidat biasanya dilandasi oleh alasan ideologis dan moral tanpa mempertaruhkan nilai-nilai jurnalisme yang menjunjung tinggi usaha untuk selalu menemukan dan menyebarkan kebenaran," kata Putra.
Putra pun memastikan, media yang berpihak tidak berarti akan kehilangan konsistensinya dengan profesionalitas. Ia yakin media yang berpihak tetap akan bekerja dengan prinsip-prinsip jurnalisme.
[ysa]
BERITA TERKAIT: