"Dalam beberapa pekan terakhir ini, saya mendengar berbagai kalangan menggunjingkan kemungkinan terjadinya rusuh pasca Pilpres. Apalagi Polri pun sudah memprediksi kemungkinan terjadinya benturan fisik antarpendukung capres-cawapres di beberapa kota," kata anggota Komisi III dari Fraksi Golkar, Bambang Soesatyo, Senin malam (30/6).
Situasi seperti ini, ungkap Bambang, benar-benar menggelisahkan dan mestinya tidak ditolerir. Pekan lalu misalnya, atau jelang akhir Juni 2014, depresiasi rupiah berlanjut. Nilai tukar rupiah sudah tembus Rp 12.000, tepatnya Rp 12.103 per dolar AS. Sepanjang pekan lalu itu, rupiah sudah terdepresiasi 1,56 persen terhadap dolar AS.
Di Bursa Efek Indonesia (BEI), lanjut Bambang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari transaksi terakhir, Jumat (27/6), terkoreksi 27,28 poin. Faktor utama yang memengaruhi situasi pasar valuta dan saham akhir-akhir ini adalah dinamika politik menuju Pilpres yang terkesan tidak kondusif.
Bambang mencatat, kegelisahan sebagian masyarakat itu setidaknya telah disuarakan oleh Megawati Soekarnoputri, dalam konferensi pers di Hotel Horison, Bekasi, Jumat lau (27/6). Saat itu Megawati mengatakan bahwa ia sudah mendengar rumor akan terjadi huru-hara, da ia sendiri tidak tahu siapa yang pertama menyebarkan rumor itu.
"Saya mengapresiasi kesiagaan Polri, TNI dan BIN terus memantau dinamika publik. Namun, saya menyarankan agar Polri berinisiatif membangun komunikasi dengan tim pemenangan masing-masing kubu untuk mengajak mereka bekerjasama mewujudkan suasana kondusif dan damai. Masing-masing kubu harus menyadari pentingnya menjaga stabilitas politik dan keamanan dalam negeri," demikian Bambang.
[ysa]
BERITA TERKAIT: