Tentu saja sikap Fahri ini mengecewakan Aktivis Muda Nahdatul Ulama. Apalagi, sebagai politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), seharusnya Fahri menunjukkan apresiasinya terhadap ide itu. Sebab dengan menyepakati gagasan para santri dan kyai itu, sama saja artinya Jokowi berniat mengapresiasi santri, yang dalam sejarah bangsa ini tak banyak dihargai.
"Itu menunjukkan Jokowi memahami politik kebudayaan untuk membangun bangsa yang terdiri dari banyak elemen, diantaranya santri," kata aktivis muda NU, Syafiq Ali, Senin malam (30/6).
Menurut Syafiq, bahasa kebudayaan adalah salah satu cara untuk menguatkan rasa kebangsaan. "Mungkin Fahri tidak memahami hal ini, atau karena dia memang sudah apriori terhadap Jokowi. Kalau sudah apriori, ya kita jadi maklum dengan pernyataannya itu," katanya.
Anggota Tim Sukses pasangan Prabowo-Hatta, Fahri Hamzah menyebut Joko Widodo sinting. Sebutan itu dilontarkan Fahri menanggapi janji Jokowi untuk menetapkan 1 Muharram sebagai hari santri nasional.
"Jokowi janji 1 Muharam hari Santri. Demi dia terpilih, 360 hari akan dijanjikan ke semua orang. Sinting!" Tulis Fahri melalui akun twitternya @Fahrihamzah.
Soal 1 Muharram sebagai Hari Santri Nasional muncul saat Jokowi berkampanye ke Pondok Pesantren Babussalam, Malang, Jawa Timur, Jumat (27/6). Para santri dan kyai meminta Jokowi menandatangani perjanjian kesepakatan untuk memperjuangkan Hari Santri Nsional itu.
Pimpinan Pondok Pesantren Babussalam Kyai Haji Thoriq Bin Ziyad menyatakan capres yang mau memperjuangkan hari santri nasional berarti telah memperjuangkan seluruh santri dan ulama. Jokowi, yang mengenakan peci hitam langsung menyanggupi permintaan tersebut.
"Saya menyanggupi permintaan menjadikan tanggal 1 Muharram sebagai hari santri nasional. Itu wajib diperjuangkan," kata Jokowi.
[ysa]
BERITA TERKAIT: