Demikian disampaikan Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Nusron Wahid. Pernyataan Nusron ini terkait dengan pernyataan Fahri Hamzah yang menyebut Jokowi sinting dalam akun twitternya karena menyetujui penetapan 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional.
"Fahri itu orang yang tidak tahu dan memahami sejarah Islam," kata Nusron, Senin malam (30/6).
Nusron menjelaskan, usulan para kyai dan santri yang diamini Jokowi, yang akan menjadikan 1 Muharram sebagai hari santri itu merupakan momentum hijrah menuju
akhlakul karimah bangsa Indonesia yang dipelopori para santri. Hal ini sebagaimana dulu para santri KH Hasyim Asy'ari memelopori perang melawan sekutu pada 10 November, kemudian dijadikan sebagai Hari Pahlawan.
"Kalau gagasan itu dianggap sinting, berarti yang menganggap sinting, berarti
bahlul dan
sontoloyo, dan tidak bisa memaknai hijrah dalam kontek santri di Indonesia," sindirnya.
Bagi Nusron, Jokowi justru lebih baik karena menebar kebaikan-kebaikan yang sifatnya inspiratif seperti hari santri, Hari Inovasi Nasional, Hari Buruh dan sebagainya, daripada menebar janji kekuasaan dan kursi menteri kepada semua pendukungnya.
"Fahri adalah teman dan sahabatnya saya. Cuma karena ide ini dilontarkan Jokowi calon presiden yang tidak dia dukung, mungkin saja dia sewot dan
jealous. Janganlah di bulan puasa menilai gagasan orang dengan kebencian. Lebih baik banyak ngaji di bulan puasa," ujarnya.
Apalagi, lanjut dia, tidak mengakui hari santri, berarti sama saja tidak mengakui peranan santri dalam menciptakan
character and national building bangsa Indonesia, yang nasionalis, religius dan ber-akhlaqul karimah.
[ysa]
BERITA TERKAIT: