Wiranto, yang merupakan mantan Panglima ABRI, menjadi cawapres Jusuf Kalla. Sementara Prabowo, yang merupakan mantan Danjen Kopassus, menjadi cawapres Megawati.
Dalam Pilpres 2009 itu, meski sama-sama menjadi pesaing, Wiranto sama sekali tidak pernah menyerang Prabowo dengan persoalan tragedi 1998 maupun dengan persoalan hak asasi manusia (HAM).
Anehnya, dalam Pilpres 2014 ini, ketika Wiranto menjadi pendukung Jokowi, dan Prabowo maju sebagai capres, Wiranto mendaur ulang persoalan lama dengan memberi pernyataan soal Dewan Kehormatan Perwira (DKP).
Pernyataan Wiranto inilah yang membuat heran Wakil Sekjen DPP Golkar, Lalu Mara Satria Wangsa. Padahal juga, Prabowo sudah dinyatakan lolos persyaratan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), dan itu artinya tidak ada lagi persoalan.
"Mestinya, bila ingin menjegal Pak Prabowo agar tidak memenangkan Pipres 9 Juli yang akan datang, lakukan sebelum KPU memutuskannya. Kalau sekarang, isu soal pemecatan dan HAM, menurut saya, itu namanya pembunuhan karakter Pak Prabowo," ungkap Lalu Mara kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Jumat, 20/6).
Lalu Mara pun curiga. Sepertinya para jenderal purnawirawan yang mendukung Capres Jokowi ketar-ketir bila Prabowo jadi Presiden.
"Ketar-ketir kenapa? Ini harus dianalisanya jawabannya. Sebab seharusnya, para jenderal itu, termasuk Pak Wiranto, bangga punya junior maju sebagai capres," demikian Lalu Mara.
[ysa]
BERITA TERKAIT: