PDIP: Mutu "Transkip Mega-Jaksa Agung" Lebih Rendah dari Surat Palsu

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Kamis, 19 Juni 2014, 06:42 WIB
PDIP: Mutu "Transkip Mega-Jaksa Agung" Lebih Rendah dari Surat Palsu
megawati/net
rmol news logo . Transkrip pembicaraan via telepon yang seolah-olah Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Jaksa Agung Basrief Arief, sebagaimana disampaikan Faizal Assegaf, merupakan rekayasa politik tanpa nalar. Terlebih, Faizal Assegaf menskenariokan seakan-akan transkrip tersebut berdasarkan bocoran dari Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto.

"Itu merupakan rekayasa politik tanpa nalar. Baca saja transkripnya, itu dialog yang sangat dibuat-buat. Banyak muncul kata-kata aneh, dan cara menyebut nama yang tidak biasa dilakukan oleh Ibu Megawati," kata Jurubicara Tim Pemenangan Jokowi-JK, Hasto Kristiyanto, Kamis malam (19/6).

Hasto mengaku sudah membaca transkripan yang dituduhkan Faizal itu seperti muncul di berbagai media massa. Menurut Hasto, ada sejumlah kata yang benar-benar bukan Megawati yang sebenarnya.  Misalnya, kata-kata seperti sampeyan, itu anu, memanggil Surya Paloh dengan sebutan 'Pak Surya', sebutan Mas Todung untuk Todung Mulya Lubis,  plus kata-kata yang bernada khawatir seperti agenda kita semua.

Hasto menegaskan itu bukanlah pernyataan yang biasa keluar dari Ibu Megawati. "Itu transkrip karangan yang tidak bermutu. Lebih rendah kelasnya daripada surat palsu," ujarnya, sambil menekankan sebenarnya akan afhdol apabila menyebutkan Faizal Assegaf sekalian menunjukkan nomor telepon dari pihak-pihak yang dituduhkan melakukan percakapan tersebut.

Dan lebih heran lagi, lanjut dia, transkrip jadi-jadian tersebut mendapat komentar luas dari para pendukung Prabowo-Hatta seperti Ramadhan Pohan, Kivlan Zein, dan sejumlah pengamat yang diidentifikasi biasa membela-bela Prabowo. Padahal KPK dan Kejaksaan Agung dengan tegas telah membantah kebenaran transkrip itu.

"Kalau kubu Prabowo sudah panik, jangan tunggangi isu-isu kelas bawang sebagaimana disampaikan Faizal Assegaf tersebut. Lihat dulu track record dia" ungkapnya, sambil mengatakan Assegaf itu diduga orang yang pernah menerbitkan buletin yang cuma satu edisi untuk memfitnah Sri Mulyani dan Arifin Panigoro pada tiga tahun yang lalu.

Kata Hasto, Faizal Assegaf juga dikenal sebagai pengkritik keras ketika Jokowi mengumumkan rekening dana kampanye. Namun diam seribu bahasa ketika Prabowo-Hatta ikut-ikutan membuka rekening yang bisa menjadi ukuran transparan tidaknya pengelolaan dana kampanye pilpres.

"Jadi dia pasti berada di kubu seberang. Mudah ditebak bahwa serangan transkrip buatan itu bagian dari proyek menjatuhkan citra Jokowi," pungkasnya.

Saat ini, Kejaksaan Agung dan KPK sendiri sedang mempertimbangkan untuk membuat laporan hukum ke kepolisian atas perbuatan Faizal Assegaf itu. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA