"SBY yang memillih bersikap netral bagaikan telah kehilangan tongkat komandonya dengan manuver politik para kadernya dalam Pemilu Presiden 2014," kata Ketua DPP Hanura, Yuddy Chrisnani, menanggapi sejumlah kader Demokrat yang bermanuver dengan mendukung Prabowo-Hatta, beberapa saat lalu (Rabu, 18/6).
Yuddy pun melihat sikap Ketua Fraksi Partai Demokrat Nurhayati Assegaf jelas-jelas melawan kebijakan SBY. Padahal seharusnya Nurhayati mampu menerjemahkan sikap SBY dan bersama-sama menyiapkan transisi pemerintahan ke depan.
Di samping itu, kata Yuddy, sikap politik Fraksi Partai Demokrat DPR juga telah ikut mempermalukan ketua umumnya sendiri. Kader Partai Demokrat, seharusnya menyadari bahwa SBY saat ini dalam posisi yang sedang dipojokkan, terutama terkait dengan kebocoran negara sebesar Rp 1.000 triliun.
Dalam debat calon presiden Minggu lalu (15/6), Prabowo menyatakan bahwa Indonesia mengalami kebocoran anggaran Rp 1.000 triliun. Kebocoran anggaran terjadi dalam pemerintahan yang kini dipimpin SBY.
Manuver politik sejumlah elite Partai Demokrat DPR ini juga dinilai bertentangan dengan aspirasi arus bawah. Hal itu terlihat dari hasil survei Indo Barometer yang merekam, bahwa sikap netral SBY menjadikan mayoritas pemilih Demokrat leluasa menentukan pilihannya di pilpres. Hal itu terbukti meskipun beberapa elite Demokrat mendukung pasangan Prabowo-Hatta.
Dalam survei Indo Barometer itu, pemilih Demokrat yang mendukung Jokowi-JK sebanyak 47,6 persen. Sementara yang mendukung Prabowo-Hatta hanya 36,6 persen saja, dan sebanyak 15,9 persen menyatakan belum memutuskan pilihannya.
[ysa]
BERITA TERKAIT: