Demikian disampaikan Wakil Bendahara Umum Golkar, Bambang Soesatyo. Bambang pun kembali mengingatkan momentum Pilpres 2004 dan 2009, yang pada saat itu petinggi dan kader Partai Golkar juga tidak bulat mendukung pasangan capres atau cawapres yang diusung sendiri oleh Partai Golkar. Dan kondisi ini merupakan realita politik di tubuh Golkar.
"Sebagai pengurus sekaligus kader, kita memang harus patuh dan taat azas atas keputusan yang telah diambil partai untuk mendukung Prabowo-Hatta. Tapi, kita juga tidak bisa apa-apa kalau ada kader militan partai Golkar yang mendukung salah satu pasangan capres-cawapres lain karena ikatan batin sebagai bentuk solidaritas sesama kader partai," kata Bambang kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Rabu, 21/5).
Bambang mengakui, di satu sisi, bila ada kader Golkar mendukung pasangan di luar garis partai tentu harus siap dengan segala resikonya, termasuk menerima sanksi partai. Namun di sisi lain, Bambang juga berharap partai bertindak bijaksana dalam menghadapi realita yang terjadi tersebut. Lebih-lebih JK adalah juga mantan Ketua Umum Golkar.
"Jadi sekali lagi, bagi Partai Golkar adanya perbedaan pendapat itu sudah biasa. Nanti juga usai Pilpres pada Juli mendatang kita akan berangkulan, bercipika-cipiki dan berkumpul kembali di bawah kebesaran pohon beringin," demikian Bambang.
[ysa]
BERITA TERKAIT: