Demikian penilaian politisi PDI Perjuangan, Beathor Surjadi, mengomentari mantan Danjen Kopassus yang kini adalah saingan utama jago PDIP Joko Widodo.
Menurut anggota DPR RI ini, pada periode 1997-1998 Prabowo sudah melakukan hal yang benar untuk menggapai kekuasaan. Sayangnya, karena ragu-ragu berbagai upaya itu tidak membuahkan keberhasilan.
"Saat itu Presiden Soeharto di luar negeri. Dia sudah menguasai hampir 70 persen militer, terutama Kostrad dan Kopassus. Dia menemui Wapres BJ Habibie. Tetapi karena ragu-ragu ya pulang lagi," ujar Beathor.
Beathor juga menyoroti latar belakang keluarga Prabowo.
Ayah Prabowo, Soemitro Djojohadikusumo, pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Industri di Kabinet Natsir (1950-1951), Menteri Keuangan di Kabinet Wilopo (1952-1953) dan Menteri Keuangan di Kabinet Burhanuddin Harahap (1955-1956). Tahun 1957 Soemitro bergabung dengan PRRI Permesta yang mendapatkan dukungan dari Amerika Serikat.
Soemitro kemudian memilih melarikan diri dari Indonesia dan bekerja sebagai konsultan ekonomi dI Malaysia, Hongkong, Thailand, Prancis dan Swis antara 1958 hingga 1967.
Setelah Soeharto berkuasa, Soemitro kembali ke Indonesia dan mendapatkan posisi sebagai Menteri Perdagangan Kabinet Pembangunan I.
Adapun nama Subianto yang digunakan Prabowo di belakang namanya adalah nama salah seorang pamannya, Subianto Djojohadikusumo yang tewas dalam pertempuran Lengkong di Serpong bersama Mayor Daan Mogot.
Kelihatannya Prabowo lebih nyaman menggunakan nama Subianto.
Hal lain yang dijadikan pertimbangan oleh Beathor adalah salah satu pernyataan Jenderal LB Moerdani dalam biografinya. Benny Moerdani bercerita keputusannya memindahkan Prabowo dari Kopassus ke Kostrad karena Prabowo tidak disiplin. Dia juga membangun faksi di antara prajurit TNI. Benny Moerdani pun mencatat Prabowo sebagai prajurit yang ambisius.
"Menurut Pak Benny Moerdani, ambisi itu bagus karena membangun harapan. Sedangkan ambisius itu membunuh harapan orang lain," kata dia lagi.
"Sekarang dia ingin melawan alam agar dipilih rakyat. Padahal waktu sudah berubah, dan panggilan alam sudah untuk Jokowi," demikian Beathor.
[dem]
BERITA TERKAIT: