Demikian disampaikan Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief, beberapa saat lalu (Kamis, 1/5). Pernyataan Andi Arief meneruskan pernyataan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama, atau Ahok, yang menudingnya asal ngomong saja.
Ahok menyebut Andi Arief asal ngomong karena mengatakan Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa) DKI Jakarta 2013 berpotensi Rp 11 triliun jika diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atau meleset rencana dan lebih besar dari prediksi Jokowi. Artinya, dengan besaran Silpa tersebut, APBD pada 2014 jadi membengkak sebesar Rp72 triliun atau lebih besar dibandingkan pada 2013 sekitar Rp 51 triliun.
Andi Arief pun merasa senang mendapat tanggapan dari Ahok. Andi Arief mengingatkan, saat debat calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, yang disaksikan jutaan penonton televisi, Ahok dan Jokowi menebar pesona dengan menyebut Fauzi Bowo gagal dalam mengelola anggaran karena SILPA tinggi akibat penyerapan anggaran rendah. Karena itu Ahok dan Jokowi yakin dan percaya diri penyerapan anggaran akan mencapai 97 persen.
Rakyat saat itu, lanjut Andi Arief, tentu menyambut baik keyakinan Ahok dan Jokowi ini karena semakin besar anggaran terserap semakin bergerak roda perekonomian, infrastruktur menggeliat, macet teratasi, dan banjir bisa diminimalisir. Dan sampai awal Desember, Ahok dan Jokowi masih meyakinkan publik bahwa serapan tetap sesuai target.
Namun tiba-tiba, lanjut Andi Arief lagi, Ahok dan Jokowi mengaku "menyerah" tidak mampu membelanjakan dengan alasan yang sama yang dikemukakan Fauzi Bowo; hambatan teknis tender, pembebasan lahan dan lain-lain. Untuk menutupi ini, Ahok mengeluarkan pernyataan bahwa daripada dikorupsi leboh baik Silpa tinggi.
Belakangan, kata Andi Arief, Ahok dan Jokowi tancap gas dan menaikkan APBD 2014 dari Rp 51 triliun menjadi Rp 71 trliun. Jumlah ini, bagi yang tidak jeli, seakan karena realisasi pendapatan 2013 tinggi. Tak heran Menteri Keuangan pun sempat terkecoh dan sudah diralat. Sebab kenaikan anggaran ini karena SILPA, hibah, dan dana tambahan pusat. Ahok dan Jokowi pun kembali meyakinkan bahwa penyerapan 2014 bisa mencapai 95 persen. Namun faktanya, pada triwulan pertama baru terserap 4,5 persen, dan hanya keajaiban jika akhir Desember nanti akan terealisasi 95 persen.
"Ini bukan lagi soal efisiensi, namun soal managemen pemerintahan. Kasus transjakarta, KJS dan duplikasi 18 mata anggaran adalah fakta buruknya tata kelola," ungkap Andi Arief.
Soal tudingan asal ngomong, Andi Arief mengatakan bahwa ia tak mau meladeni retorika dan amarah Ahok.
"Karena mungkin Bapak Ahok dalam keadaan lelah dan tidak fokus di tahun politik ini. Saya berdoa, Tuhan cepat meredakan amarah Pak Ahok yang kurang baik ditonton anak-anak usia belum dewasa. Nanti Dikira sinetron yang isinya juga penuh amarah," demikian Andi Arief.
[ysa]
BERITA TERKAIT: