Ketua MPR Serukan Revolusi Mental untuk Jawab Masalah Industri Nasional

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Rabu, 30 April 2014, 18:37 WIB
Ketua MPR Serukan Revolusi Mental untuk Jawab Masalah Industri Nasional
sidarto/net
rmol news logo . Tantangan Indonesia, dan khususnya industri nasoional, di tahun 2015 adalah pasar bebas dalam bentuk Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Dalam MEA 2015, maka barang dan jasa dari luar negeri, termasuk sumber daya manusia, akan mengalir deras ke Indonesia.

"Sumber daya manusia kita masih di bawah Singapura, Brunei, Thailand, Filipina. Dari seluruh negara Asean, kita nomor lima. Mungkin kita bisa diserbu lawyer, dokter, ahli ekonomi, yang lebih canggih dari kita," kata Ketua MPR, Sidarto Danusubroto, saat berbicara dalam seminar "Roadmap Industri Manufaktur Nasional Menuju Indonesia Berdikari" di Jakarta (Rabu, 30/4).

Karena itu, di tengah posisi SDM Indonesia yang masih di bawah negara lain, Sidarto mengingatkan betapa perlunya revolusi mental untuk menjawab pasar bebas Asean tersebut, khususnya terkait dengan industri nasional. Hal ini mengingat, Indonesia dahulu pernah unggul di bidang SDM ketimbang negara Asean lainnya.

"Dulu kita pernah unggul di SDM. Kita banyak guru di Malaysia, dosen-dosen banyak sekali datang dari ITB, Gajah Mada. Sekarang terbalik, kita banyak belajar kesana," ungkap Sidarto, yang merupakan politisi senior PDI Perjuangan.

Seminar ini digelar oleh Aliansi Masyarakat Sipil untuk Indonesia yang Berdikari dan Sejahtera (Almisbat). Dalam kesempatan ini, anggota Dewan Nasional Almisbat, Rony Tanusaputra, menyatakan daya saing industri nasional Indonesia sangat lemah karena masih sangat bergantung pada impor. Di tahun 2013, tercatat impor bahan baku dan penolong mencapai USD 128 miliar.

Meski begitu, katanya, Indonesia masih memiliki peluang besar untuk memanfaatkan momentum untuk bangkit sebagai negara industri yang tangguh. Kuncinya adalah kepemimpinan yang bervisi mendorong Indonesia menjadi negara industri manufaktur terkuat.

"Di bawah kepemimpinan Jokowi yang telah mencanangkan jalan kemandirian di bidang ekonomi, Indonesia akan memiliki harapan besar bisa mencapai itu," tegas Rony. Sementara Dedi Mulyadi, Anggota Pokja Industri Almisbat, menambahkan, industrialisasi adalah bukan masalah membangun pabrik. Hal yang perlu disiapkan Pemerintah adalah sarana transformasi masyarakat dari masyarakat petani ke masyarakat industri. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA