Di satu sisi, Gerindra dan Golkar belum dalam posisi aman soal pencapresan karena selain suaranya di pemilu lalu kurang signifikan juga belum ada parpol-parpol lain yang memastikan berkoalisi. Di sisi lain, Prabowo dan Aburizal Bakrie sama-sama memiliki syahwat politik tinggi dan dua-duanya juga tetap berambisi jadi RI-1 tanpa ada yang mau mengalah
"Seharusnya, salah satunya harus mengalah menjadi orang nomor dua dan tentunya dari parameter penerimaan di publik, ARB harus rela turun jabatan jadi cawapres. Walau perolehan suara Gerindra dibawah Golkar di pemilu lalu, namun sosok Prabowo masih bisa diterima pasar ketimbang pemilik Lapindo Brantas tersebut," kata pengamat komunikai politik, Ari Junaedi, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Rabu, 30/4).
Manurut Ari, yang juga pengajar di Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini, hingga jelang pengumuman hasil definitif pemilu legeslatif oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) tanggal 10 Mei mendatang, kondisi rancang bangun koalisi masih terbuka lebar. Dan saat ini, tiap-tiap parpol masih sibuk lihat-lihat etalase parpol lain atau
window shopping, termasuk yang dilakukan Golkar dan Gerindra.
"Saya melihat kondisi Golkar saat ini seperti kesebelasan Manchester United (MU) di Liga Primer Inggris yang gagal berlaga di kasta Championship. Seharusnya kalau mau berjaya di Liga, Golkar layak mencontoh langkah MU yakni dengan mengganti manajer David Moyes. Untuk Golkar, harusnya mengevaluasi pencapresan ARB yang kurang laku di pasar," demikian Ari Junaedi.
[ysa]
BERITA TERKAIT: