Demikian disampaikan Tim Jokowi, Eva Kusuma Sundari. Eva pun menjelaskan, pendidikan kepribadian harus bersandar pada ajaran Ki Hajar Dewantoro yang menempatkan hubungan guru-siswa sebagai pamong, seperti layaknya orang tua ke anak kandung. Murid diberikan perlindungan yang tulus, baik fisik maupun mentalnya, dan hubungan guru-murid tidak boleh seperti penjual-pembeli dalam transaksi ilmu pengetahuan.
Dalam konsep Ki Hajar Dewantoro, lanjut Eva, bentuk relasi antar siswapun tidak asimetris hirarkis senior-yunior yang militeristik sehingga senior boleh mengajar kekerasan kepada yuniornya seperti yang terjadi di STPDN, SPI, maupun di sekolah-sekolah umum yang terbukti ada tindakan
bullying. Senior, sebagai kakak, wajib melindungi siswa yunior sehingga sang adik menghormati kakaknya, dan bukan takur.
"Capres Jokowi, punya kenangan indah saat menempuh pendidikan menengah di Solo dimana saat ospek, kakak kelas diminta menggendong siswa-siswa baru sehingga mereka menikmati rasa aman dan terlindung. Sementara para guru berperan sebagai pamong juga bersikap melindungi termasuk menjadi tempat bertanya, curhat, membimbing, dan bukan sekedar penjual ilmu pengetahuan," kata Eva beberapa saat lalu (Selasa, 29/4).
Terkait dengan insiden kekerasan seksual di TK Jakarta International School (JIS) dan kematian Dimas di Sekolah Pelayaran Indoonesia (SPI), menurut Eva, ini merupakan tragedi serius betapa tiadanya hak anak atas perlindungan di sekolah. Karena itu, penutupan TK JIS dan mengeluarkan 8 siswa senior SPI tidak cukup. Upaya ini harus digenapi dengabn reorientasi sistem pendidikan menuju pemenuhan kualitas pendidikan.
"Sayangnya, meski berorientasi pada kuantitas, pendidikan Indonesia masih di bawah Kamboja dan Vietnam bahkan di bawah Palestina yang sedang perang," demikian Eva.
[ysa]
BERITA TERKAIT: