Revolusi Mental ala Jokowi Harus Diterapkan di Dunia Pendidikan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Selasa, 29 April 2014, 13:54 WIB
Revolusi Mental ala Jokowi Harus Diterapkan di Dunia Pendidikan
jokowi/net
rmol news logo . Revolusi Mental ala Jokowi harus diterapkan di dunia pendidikan, termasuk untuk pengelolaan sekolah sebagai rumah kedua para siswa. Sebagai rumah, sekolah harus berkarakter ramah, bebas kekerasan, melindungi, dan berorientasi proses yaitu pembentukan karkater yang berkepribadian Indonesia bagi para siswa.

Demikian disampaikan Tim Jokowi, Eva Kusuma Sundari. Eva pun menjelaskan, pendidikan kepribadian harus bersandar pada ajaran Ki Hajar Dewantoro yang menempatkan hubungan guru-siswa sebagai pamong, seperti layaknya orang tua ke anak kandung. Murid diberikan perlindungan yang tulus, baik fisik maupun mentalnya, dan hubungan guru-murid tidak boleh seperti penjual-pembeli dalam transaksi ilmu pengetahuan.

Dalam konsep Ki Hajar Dewantoro, lanjut Eva, bentuk relasi antar siswapun tidak asimetris hirarkis senior-yunior yang militeristik sehingga senior boleh mengajar kekerasan kepada yuniornya seperti yang terjadi di STPDN, SPI, maupun di sekolah-sekolah umum yang terbukti ada tindakan bullying. Senior, sebagai kakak, wajib melindungi siswa yunior sehingga sang adik menghormati kakaknya, dan bukan takur.

"Capres Jokowi, punya kenangan indah saat menempuh pendidikan menengah di Solo dimana saat ospek, kakak kelas diminta menggendong siswa-siswa baru sehingga mereka menikmati rasa aman dan terlindung. Sementara para guru berperan sebagai pamong juga bersikap melindungi termasuk menjadi tempat bertanya, curhat, membimbing, dan bukan sekedar penjual ilmu pengetahuan," kata Eva beberapa saat lalu (Selasa, 29/4).

Terkait dengan insiden kekerasan seksual di TK Jakarta International School (JIS) dan kematian Dimas di Sekolah Pelayaran Indoonesia (SPI), menurut Eva, ini merupakan tragedi serius betapa tiadanya hak anak atas perlindungan di sekolah. Karena itu, penutupan TK JIS dan mengeluarkan 8 siswa senior SPI tidak cukup. Upaya ini harus digenapi dengabn reorientasi sistem pendidikan menuju pemenuhan kualitas pendidikan.

"Sayangnya, meski berorientasi pada kuantitas, pendidikan Indonesia masih di bawah Kamboja dan Vietnam bahkan di bawah Palestina yang sedang perang," demikian Eva. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA