Maka dalam hal, siapapun capresnya, perlu juga mempertimbangkan pasangan di luar lingkarannya. Misalnya bila ia berasal dari kawasan Jawa, mau tak mau harus menggandeng tokoh yang di luar Jawa. Ini bukan sekedar isu primordialistik, nama faktanya memang untuk memimpin Indonesia harus ada kerjasama kawasan sehingga tidak ada kesan, misalnya Jawa centris.
Maka dalam hal, cukup relevan bila ada orang berharap agar Jokowi, yang dicapresakan oleh PDI Perjuangan, bisa diduetkan dengan pasangan dari, misalnya, Sumatera. Apalagi Sumatera merupakan kawasan yang dari sisi pembangunan sedang terus menggeliat, dan beberapa daerah sudah memastikan siap menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean pada 2015.
Dengan paradgima dan pola pikir seperti ini, wajar bila Jokowi dinilai layak berpasangan dengan tokoh Sumatera. Kasus di DKI Jakarta menjadi contoh ketika Jokowi terlihat menjadi duet maut dengan ahok, yang merupakan orang Bangka Belitung. Pasangan ini ibarat gas dan rem yang seimbang, dan menarik.
Saat ini, paling tidak, ada dua nama, yang juga disebut-sebut sebagai bakal cawapres Jokowi, yang berasal dari Sumatera. Mereka adalah mantan Kepala Staf Angkatan Darat Ryamizard Ryacudu dan mantan Menko Perekomian Rizal Ramli. Ryamizard dikenal sebagai TNI nasionalis dan sangat dekat dengan Megawati, sementara Rizal dikenal sebagai pejuang ekomoni kerakayatan dan sangat memahami ajaran Bung Karno.
Sekarang, keputusan ada di tangan Megawati dan Jokowi. Apakah akhirnya akan melihat variabel geografis ini atau tidak. Namum yang jelas, komposisi ini penting, bukan saja dalam meraih kemenangan secara sempurna, melainkan juga karena terkait dengan komitmen Indonesia Raya.
[ysa]
BERITA TERKAIT: