Hingga saat ini, SBY memang terlihat masih diam. Namun sejatinya, dia sedang mundur ke belakang, untuk menyusun strategi yang matang. Bila strategi itu sudah siap, dipastikan taktik-taktik yang akan dimainkan SBY bisa mematikan lawan, atau Jokowi.
Perlu dicatat, hingga saat ini, SBY masih menguasai suprastruktur kekuasaan. Dan bila peta koalisi sudah
deadlock, tak mustahil partai-partai menengah itu akan merapat dan menyemut kembali ke SBY, untuk bersama-sama melawan PDI Perjuangan dan Jokowi.
Akhirnya yang akan terjadi adalah
head to head lagi antara SBY dan Megawati. Dan sampai di sini, dengan modal sosial Jokowi yang tinggi, mungkin Mega akan memukul mundur SBY.
Namun perlu diperhatikan, papan catur pertarungan saat ini bukan sekedar capres lawan capres. Peristiwa yang terjadi saat ini adalah juga pertempuran patih dengan patih, atau cawapres dan cawapres. Salah menentukan cawapres, habislah sang raja.
Disinilah mengapa posisi cawapres menjadi sangat penting, selain juga di tengah kondisi sosok Jokowi yang dinilai masih punya kelemahan. Dan di tengah kekosongan kursi cawapres Jokowi itulah, SBY sedang menghitung serta mengatur langkah-langkah yang akan diambil.
Dari sisi ini, ada yang percaya, celaka lah Megawati dan Jokowi bila mengambil JK sebagai cawapres. Dengan JK menjadi cawapres Jokowi, maka SBY jadi punya dua modal senjata untuk melawan. Senjata pertama, sebagaimana disebutkan di atas, adalah koalisi partai menengah, dan senjata kedua adalah kelemahan JK.
Lima tahun SBY bersama dengan JK. Lima tahun pula JK setia mendampingi SBY ketika Megawati mengalami kekalahan di 2004. Lima tahun, waktu yang cukup untuk mengetahui satu sama lain.
Dan dalam
last beattle bagi sang Presiden, yang dinilai akan menentukan "keamanannya" di masa mendatang, mudah dan rasional bagi SBY membongkar kelemahan dan borok JK, yang satu diantaranya, sebagaimana sudah menyebar di publik, adalah sikap JK yang nepotisitik dan kolutif. Perlu diketahui juga, JK adalah Menteri Perdadagangan yang dipecat Gus Dur karena tuduhan dua hal itu.
Karena itu, bisa dipahami, bila sampai sekarang Megawati masih hati-hati menimbang nama cawapres.
[ysa]
BERITA TERKAIT: