Cawapres Jokowi baru akan pasti setelah keluar nama dari bibir Megawati Soekarnoputri di depan publik. Selama itu belum terjadi, siapapun nama cawapres yang berkembang masih bernilai spekulasi.
Bahkan, sekalipun spekulasi itu datang dari mulut elit PDI Perjuangan, masih belum bisa dipercaya. Banyak momentum politik selama ini, yang menunjukkan bahwa seringkali omongan elit PDI Perjuangan tidak sejalan dengan kebijakan dan keputusan Megawati.
Banyak yang percaya Megawati memang hati-hati dalam menentukan posisi ini. Posisi ini tidak kalah penting dengan posisi Jokowi sebagai capres, yang dinilai masih memiliki banyak kelemahan seperti hubungan dengan komunitas Islam moderat, wawasan ekonomi, jaringan internasional dan ketegasan.
Bila salah pilih, tak mustahil cita-cita mengimplementasikan ajaran Trisakti hanya menjadi bahan kampanye saja. Karena itu, sosok yang harus menjadi cawapres Jokowi, agar ajaran Trisakti benar-benar terlaksana, misalnya, haruslah sosok yang memahami dan memperjuangkan ajaran Soekarno.
Paling tidak dalam bidang kemadirian ekonomi adalah sosok yang selama ini terus bersuara dan memperjuangkan ekonomi kerakyatan. Bukan sosok yang sama sekali tidak pernah menyebut nama Soekarno, dan bukan sosok yang dibesarkan dalam rezim yang pernah mendelegitimasi Soekarno.
[ysa]
BERITA TERKAIT: