Pasangan Jokowi Harus Bisa Raup Suara Indonesia Timur

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ade-mulyana-1'>ADE MULYANA</a>
LAPORAN: ADE MULYANA
  • Senin, 14 April 2014, 22:39 WIB
rmol news logo Konstelasi politik terkait posisi cawapres semangit menarik pasca pileg. Apalagi meski keluar sebagai pemenang pemilu, perolehan suara yang diraih PDI Perjuangan tidak besar sehingga harus mempertimbangkan betul siapa cawapres yang akan disandingkan dengan Jokowi. 

"PDIP harus cermat dan tidak boleh gegabah dalam menentukan cawapres. Jika keliru, maka akan mempengaruhi tingkat keterpilihan bagi capres yang diusungnya," ujar peneliti senior PolcoMM Institute, Afdhal Makkuraga Putra dalam pesan elektronik yang diterima redaksi (Senin, 14/4).

Berdarkan hasil survei PolcoMM yang dirilis 3 April lalu Jusuf Kalla merupakan cawapres menurut persepsi publik paling pantas berpasangan dengan Jokowi dengan elektabilitas sebesar 14,9 persen. Publik menilai JK berpengalaman di pemerintahan, memahami masalah ekonomi, dan memiliki respon cepat dalam mengambil keputusan.

Menurut dia, persepsi publik ini bisa menjadi panduan ketika PDI akan memutuskan siapa yang akan mendampingi Jokowi.

"Saya melihat JK memiliki kelebihan lain yakni mampu melakukan lobby-lobby politik dgn parlemen jika nanti menduduki posisi wapres," paparnya.

Jokowi-JK merupakan perpaduan tokoh muda-senior yang akan saling mengisi dalam pemerintahan kedepan.

"Apalagi JK merupakan tokoh luar Jawa yang memiliki pengaruh khususnya di wilayah Indonesia timur," tambahnya.[dem]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA