"Sampai tahun 2013 jumlah wirausaha secara nasional sebesar 1,65 persen dari jumlah penduduk," kata Deputy Sumber Daya Manusia, Kemenkop, Prakoso Budi Susetyo, kepada wartawan sesaat sebelum acara Pemasyaratan Pemahaman Koperasi Melalui Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) 2014 di Semarang, Jawa Tengah (Selasa, 25/3).
Dibanding Malaysia, kata Prakoso, Indonesia kalah dalam jumlah wirausahanya. Jumlah wirausaha Malaysia sebesar 3 persen dari jumlah penduduknya. Sedangkan jumlah wirausaga Singapura sekitar 7 persen dari jumlah penduduknya.
Koko, panggilan Prakoso Budi Susetyo mengatakan, tantangan paling utama GKN adalah pola pikir masyarakat Indonesia yang memandang rendah pekerjaan sebagai wirausaha. "Banyak masyarakat Indonesia menyekolahkan anaknya di sekolah atau perguruan tinggi bermutu namun hanya untuk menjadi pegawai negeri atau pegawai kantor swasta.
"Padahal berwirasusaha jauh lebih bagus dan menguntungkan," kata dia.
Selain itu, kata Koko, sebagian besar masyarakat ingin berwirasusaha di kota-kota besar, padahal di desa sangat bagus untuk berwirausaha. "Pulanglah ke desa, berwirausahalah di desa," kata dia.
Permasalahan lain yang membuat rendahnya minat masyarakat Indonesia untuk berwirausaha adalah tidak adanya modal. Untuk itulah, kata Koko, pemerintah melalui Kemenkop menyiapkan dana bantuan sosial (bansos) untuk membantu orang berwirausaha di mana setiap orang yang berwirausaha akan mendapat bantuan dana secara cuma-cuma maksimal sebesar Rp 25 juta.
"Untuk mendapatkan dana itu melalui test khusus. Jadi tidak langsung dapat," kata dia.
Ia mengatakan, tahun 2013 Kemenkop menyalurkan dana bansos untuk masyarakat berwirausaha sebesar Rp 5 miliar yakni untuk 3.860 orang. Tahun 2014 dianggarkan dana bansos untuk ini sebesar Rp 54 miliar untuk sekitar 5.000 orang ingin berwirausaha.
[ysa]
BERITA TERKAIT: