"Meskipun biayanya begitu mahal, pemilu kali ini akan semakin baik, sebab jumlah golput bisa kecil," kata Ketua Umum DPP Aliansi Nasionalis Indonesia(Anindo), Edwin Henawan Soekowati, dalam keterangan beberapa saat lalu (Rabu, 19/3).
Dalam pandangan Edwin, Jokowi merupakan capres yang baru dan segar dibanding dengan Wiranto, Prabowo Subianto, maupun Aburizal Bakrie(ARB). Ketiga tokoh yang disebut belakangan ini pernah mengikuti konvensi capres dari Partai Golkar tahun 2004.
Wiranto, pemenang konvensi Golkar dan kalah dalam Pilpres 2004, juga kalah saat menjadi cawapres JK dalam Pilpres 2009. Sementara Prabowo, juga pernah kalah di 2009 saat menjadi cawapres Megawati. Di luar ketiga nama itu, Hatta Rajasa, juga figur lama yang sudah pernah dua kali menjadi menteri di kabinet SBY.
"Jokowi adalah pendatang baru, karirnya mulai dari walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta dan semua tahu orangnya bersahaja," kata Edwin, sambil mengatakan, bagi kelompok nasionalis-Sukarnois pikiran atau ide-ide dan ajaran Soekarno, terutama dalam hal Trisakti, akan hidup kembali dengan munculnya Jokowi.
"Kita harus jujur mengakui, Trisaktinya Bung Karno hampir ditinggalkan disemua lini, terputus di berbagai bidang. Maka dengan tampilnya Jokowi sebagai presiden diikuti semakin banyaknya kader-kader beraliran nasionalis di DPR, maka hal itu akan dapat mewarnai kehidupan berbanga dan bernegara di masa mendatang," ungkap Edwin.
Edwin menilai, langkah Megawati Soekarnoputri memilih Jokowi sebagai capres merupakan sebuah keputusan yang tepat dan akan memberi dampak yang positif bagi partai yang dipimpinnya. Diprediksi, dalam pileg, PDI Perjuangan paling sedikit memperoleh 25 persen suara.
[ysa]
BERITA TERKAIT: