Partai Islam Harus Bangun Poros Baru di Tengah Dominasi Jokowi dan Prabowo

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Selasa, 18 Maret 2014, 06:40 WIB
Partai Islam Harus Bangun Poros Baru di Tengah Dominasi Jokowi dan Prabowo
irgan chairul/net
rmol news logo . Saat ini, paling tidak, ada dua kutub politik dalam hal pencapresan. Di satu sisi ada kutub Jokowi, dan di sisi lain ada kutub Prabowo Subianto.

Namun demikian, kata Ketua Bidang Organisasi dan Penguatan Ideologi Partai Persatuan Pembangunan (PP), Irgan Chairul Mahfiz, ketua kutub ini pun sangat tergantung pada hasil pemilihan legislatif.  Tidak mustahil, hail pileg justru lebih berwarna, misalnya dengan lahir capres dari partai tengah yang berbasis Islam.

Menurut Irgan, peluang kemenangan Jokowi dan Prabowo masih harus menunggu hasil pelaksanaan Pileg guna menentukan seberapa kuat dukungan masyarakat untuk keduanya. Sementara itu, kekuatan partai Islam pun tidak boleh berdiam diri tanpa mengagendakan pencapresan dari kalangannya sendiri, mengingat pemunculan capres yang mewakili gabungan partai Islam diperlukan sebagai antitesis berbeda dari kehadiran figur Jokowi ataupun Prabowo.

"Semangat inilah yang harus dibangun oleh partai-partai Islam dengan menyepakati agenda politik pencapreskan tersendiri, sedangkan terkait siapa tokohnya, kan dapat dibahas bersama-sama secara terbuka serta tidak lagi mengutamakan ego politiknya masing-masing," jelas Wakil Ketua Komisi IX DPR RI beberapa saat lalu (Selasa, 18/3).

Irgan menambahkan, untuk memunculkan kondisi pencapresan bersama di antara kelompok partai Islam, pengalaman terbentuknya poros tengah yang pernah diprakarsai Amien Rais saat menjadikan Gus Dur sebagai presiden, dapat dilanjutkan dengan menciptakan poros politik baru di lingkungan partai Islam atau berupa poros tengah jilid dua.

Dengan membangun poros baru itu, katanya, maka keberadaan partai Islam akan diperhitungkan bukan saja di ranah publik yang menghendaki alternatif selain Jokowi dan Prabowo, namun juga akan memberi dinamika baru terhadap keperluan pergantian kepemimpinan nasional sehingga lebih bervariasi sekaligus diharapkan dapat lebih menjual dalam kaitan kredibilitas tokoh yang disiapkannya.

"Intinya, partai Islam harus bangkit bersama dan memberi pilihan lain dalam aspirasi pencalonan presiden, yang lahir dari komitmen serta atas dasar kebutuhannya untuk bangsa pada Pilpres yang akan datang," ungkap Irgan. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA