Demikian disampaikan pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi. Ari pun menilai pernyataan ARB ini, selain bagian perang urat syarat jelang pemilu sebab dengan pernyataan itu seakan-akan Golkar akan meraih suara di atas 20 persen, juga harus dimaknai sebagai modus penyesatan bagi PDIP sebagi sekondan terberat bagi Golkar.
"Sebab kalau Jokowi jadi dicalonkan oleh PDI Perjungan maka bisa diduga dengan mudah, ARB akan lunglai dan terkapar jika dihadapkan dengan Jokowi. Tetapi jika Megawati tetap dipaksakan dan memaksakan diri untuk maju di Pilpres 2014, maka ARB masih bisa mengadu nafas dengan Megawati," kata Ari beberapa saat lalu (Kamis, 6/3).
Menurut pengajar di Program Pascasarjana UI, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Dr Soetomo Surabaya, dan Universitas Persada Indonesia YAI Jakarta itu, fenomena Jokowi sebagai rising star memang dianggap ngeri-ngeri sedap oleh para pesaingnya. Selain moncer di berbagai jajak pendapat, pesona Jokowi juga mendapat dukungan media dan juga menjadi
people darling.
"Pernyataan manis ARB baiknya dicermati sebagai strategi alat pertandingan silat yang memuji lawan setinggi langit tetapi dengan maksud membuat terlena pihak lawan. Memang elektabilitas Golkar tinggi di berbagai survei tetapi kan tidak linear dengan elektabilitas ARB sendiri. Bisa jadi ARB sedang kalut dan galau melihat Jokowi," demikian Ari.
[ysa]
BERITA TERKAIT: